RADAR JOGJA – Jumat nanti (31/7) sudah ditetapkan menjadi hari raya Idul Adha. Karena masih masa pandemi Covid-19, pemotongan tak bisa sembarangan digelar. Disarankan memootng di rumah pemotongan hewan (RPH) atau harus mengantongi izin pemotongan di luar RPH.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sugeng Darmanto mengatakan pelaksanaan pemotongan hewan kurban oleh masyarakat harus memenuhi persyaratan. “Sesuai SE (surat edaran) masyarakat yang akan menyembelih di luar prinsipnya harus memberitahukan kepada Wali Kota lewat kami,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (26/7).

Berdasarkan SE Wali Kota Jogja 451/9162/SE/2020 tentang panduan penyelenggaraan ibadah Idul Adha 1441 hijriah dalam situasi pandemi Covid-19 disebutkan, salah satu poinnya bahwa pemberitahuan tempat pemotongan hewan kurban kepada pemerintah kota melalui DPP. Dilampiri dengan data panitia serta layout tempat pemotongan hewan. Harus menyebutkan lokasi dan luas tempat. Jadwal pemotongan, jumlah hewan kurban, nomor surat keterangan kesehatan hewan (SKKH), serta jumlah panitia yang terlibat. Surat laporan pemberitahuan oleh masyarakat ini sampai dengan batas lima hari sebelum hari-H. “Dari situ akan kelihatan keluasan wilayah, jumlah orang dan akan ketemu sekitar rasionya berapa,” ujar Sugeng.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, substansi protokol kesehatan, yaitu physical distancing, memakai masker dan cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Khusus pada aspek pemotongan hewan kurban di luar RPH Giwangan selain harus dilakukan oleh tenaga yang profesional juga harus meminta izin atau mengajukan surat pemberitahuan. “Karena harus memastikan untuk meminimalisir adanya klaster kurban. Kami yang tanggungjawab kalau terjadi klaster tolong itu dilakukan,” ujarnya yang menyebut pendistribusian daging juga harus menghindari yang berpotensi kerumunan.

Dia menyebut hewan kurban di kota Jogja yang disembelih pada tahun lalu mencapai 7.200 ekor. Dengan nilai transaksi hewan kurban mencapai Rp 68,4 miliar. Sedangkan kapasitas di RPH hanya mampu menyembelih sekitar 400 ekor. “Saya ingin semangat berkurban masyarakat harus tinggi, jangan karena pandemi kemudian tidak berkurban,” sambungnya.

Sehingga, diprediksi ada potensi 120 tempat pemotongan hewan kurban di luar RPH. Jika pemotongan per hari mencapai 50 ekor. Secara rata-rata masing-masing kelurahan ada tiga tempat penyembelihan. Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan Covid-19 harus jelas dan ditegakkan maksimal. “Ini perlu pengawasan wilayah juga supaya semuanya disiplin,” pesan HS.

Sugeng menambahkan, luas tempat pemotongan hewan kurban disesuaikan dengan jumlah dan jenis hewan. Untuk kambing atau domba luas minimal satu meter persegi per ekor. Sedangkan untuk sapi minimal dua meter persegi per ekor. Pengaturan jarak minimal satu meter antarpetugas pada saat pengulitan, pencacahan, penanganan, dan pengemasan daging dan lain-lain.

Mantan Kepala Bidang Pencatatan Sipil Disdukcapil Kota Jogja itu mencontohkan, setidaknya satu hewan kurban idealnya maksimal ditangani oleh dua orang petugas pengeletan atau pengulitan hewan. Ketika menyembelih paling tidak ada satu orang penyembelih dan maksimal empat orang yang membantu mengkondisikan dengan tali ke alat untuk menjatuhkan hewan kurban tersebut. “Dengan kondisi ini bisa terlaksana jaga jaraknya. Nanti gugus tugas covid-19 di masing-masing wilayah juga akan memantau apakah terjadi kerapatan dan kepadatan,” jelasnya.

Hingga Jumat (24/7) dari prediksi tahun sebelumnya sebanyak 528 lokasi pemotongan hewan kurban di luar RPH. Baru 30 lokasi panitia penyelenggara kurban yang memberikan laporan surat pemberitahuan tempat pemotongan hewan di luar RPH. Data tersebut masih bisa berkembang. Karena setiap harinya data yang masuk paling tidak 10 permohonan pemberitahuan. “Memang kami tidak ada eksekusi kemudian boleh dan tidaknya,” tuturnya.

DPP juga melakukan pengawasan dan pengecekan pada saat satu hari sebelum disembelih atau antemortem untuk melihat kesehatan hewan. Dan pada saat postmortem melihat kualitas dagingnya. Pemeriksaan antemortem dan postmortem hewan kurban terus dilakukan sampai dengan hari terakhir tasyrik atau hari ketiga Idul Adha. (wia/pra)