RADAR JOGJA – Kesulitan modal dan mahalnya biaya pendidikan masih menjadi hal yang sering dikeluhkan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sleman. Salah satu pedagang dawet di kawasan Terminal Pakem, Lasmiyati, 46, merasakan hal yang sama.

Belum lama ini dia mengeluhkan hal tersebut kepada salah satu Politisi Partai Gerindra Danang Wicaksana Sulistya (DWS) yang tengah mengunjungi lokasi berjualan para pedagang kecil di sela perjalanannya berziarah ke makam keluarganya, Jumat (24/7).

DWS sendiri akan mewakili Gerindra dalam pemilihan Bupati-Wakil Bupati Sleman 2020. Lasmiyati mengaku, awalnya dia tak menyangka salah satu pembelinya adalah orang yang berpotensi maju di Pilkada Sleman tahun ini. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, dia sampaikan keluh kesahnya kepada DWS.

“Pedagang kecil seperti saya ini kerap terpaksa meminjam uang untuk modal berdagang. Apalagi sudah 4 bulan terakhir jualan saya sepi. Saya berharap, pelaku UMKM dapat lebih mudah mendapatkan akses pinjaman modal dengan bunga rendah,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak jarang pedagang kecil harus gali lubang tutup lubang saat membutuhkan modal berjualan. Banyak juga yang memanfaatkan pinjaman berbunga tinggi dari rentenir akibat terkendala jika harus mengajukan pinjaman dari perbankan.

Sementara DWS mengaku dirinya juga berasal dari lingkungan masyarakat kebanyakan, sehingga keluh-kesah adalah bagian dari kesehariannya.

“Saya paham betul persoalan seperti ini. Meskipun sebetulnya solusi untuk itu tidak terlalu sulit,” ujar DWS.

Menurutnya, pemerintah dapat memudahkan akses permodalan untuk pelaku usaha mikro. Caranya dengan mempermudah persyaratan dan menurunkan bunga serendah mungkin.

Namun sebelum itu, pemerintah harus memiliki data yang memadai terkait jumlah pelaku usaha mikro yang perlu dibantu. DWS juga menyebut pentingnya penataan, perlindungan, dan pendampingan manajemen.

Lasmiyati pun sepakat, dia mengaku siap untuk ditata, asal tujuannya untuk kemajuan dan kesejahteraan pelaku usaha mikro.

Sementara itu Bagus, pemilik angkringan di lokasi yang sama juga ikut berkeluh kesah pada DWS. Dia mengadu tentang biaya pendidikan yang semakin mahal. Meskipun pendidikan dasar sudah digratiskan, namun dirinya mengaku harus mengeluarkan uang ekstra, karena anaknya masih di Taman Kanak-Kanak.

“Anak saya baru masuk TK pak, tidak gratis, bayarnya saja 1 juta lebih,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, DWS menyatakan akan memikirkan solusi agar persoalan pendidikan tidak lagi menjadi beban masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah.

“Kelompok ekonomi lemah ini perlu mendapatkan perhatian dengan porsi lebih,” tandasnya. (obi/ita/tif)