RADAR JOGJA – Untuk pertama kalinya pengobatan Covid-19 berbasis stem cell (sel punca) disetujui di Indonesia. Perusahaan joint venture antara perusahaan farmasi Indonesia Korea Selatan Daewoong Infion Pharmaceutical telah mengantongi izin dari pihak regulator dan otoritas kesehatan di Indonesia untuk melakukan uji klinis fase 1 pengembangan terapi Covid-19 bernama DWP710. Studi ini bertujuan untuk menguji efek antivirus pada sindrom gangguan pernapasan akut melalui uji coba nonklinis

Clinical Research Manager Daewoong Infion Nova Angginy menjelaskan, Kemenkes bersama Daewoong akan menyelesaikan Uji Klinis Fase 1 DWP710. Kemudian mengujicobakan pada perawatan Covid-19 dan mendistribusikan perawatan ini melalui kerja sama dengan pihak berwenang. Uji klinis fase 2 segera dilakukan setelah menyelesaikan uji klinis fase 1.

“DWP710 merupakan perawatan untuk Covid-19 yang memanfaatkan mesenchymal stem cell DW-MSC yaitu merupakan pengobatan berbasis sel punca yang saat ini sedang diteliti oleh perusahaan farmasi Korsel Daewoong Pharmaceuticals,” jelas Nova melalui keerangan tertulis, Minggu (26/7).

DWP710 telah teruji memiliki efek anti-inflamasi yang mampu mengurangi peradangan dalam uji pra-klinis pada hewan. Menghasilkan tingkat kelangsungan hidup lebih dari 30 persen pada kelompok uji yang mengalami kerusakan jaringan paru-paru akibat reaksi inflamasi, dan mampu memulihkan hingga mendekati kondisi normal.

“Selain itu, efek antivirus dalam pengobatan ini telah teruji mampu mengurangi jumlah virus hingga di batas bawah deteksi pada¬† jaringan paru yang terinfeksi,” ungkap Nova.

Efek anti-inflamasi sel mesenchymal, kata Nova, telah dikenal sejak lama dan telah dimanfaatkan dalam berbagai jenis pengobatan penyakit selama lebih dari 10 tahun.

Stem Cell sebagai obat modern diyakini memiliki peran penting dalam penyembuhan masalah pernapasan pada pasien Covid-19. Dari laman Kemenkes juga dinyatakan bahwa mesenchymal stem cells (MSC) merupakan agen imun dan anti-inflamasi yang kuat dan dapat menormalkan fungsi kekebalan tubuh yang rusak akibat virus SARS-CoV-2. (sky/tif)