RADAR JOGJA – Ingkling atau engklek, memiliki manfaat besar bagi tubuh dan daya kembang anak. Di antaranya, dapat melatih kekuatan otot kaki, sistem pernapasan, kelincahan dan baik untuk psikis anak.

Kepala Sekolah sekaligus guru olahraga di SMK N 1 Pundong, Bantul Sutapa menjelaskan, jika ditinjau dari olah raga, permainan dengan lompatan, bertumpu da bertolak dengan satu atau dua kali akan melatih otot-otot besar pada kaki. Seperti otot hamstring (paha belakang), quadriceps (bagian depan paha) dan otot betis. Nah, gerakan meruhan arah atau memutar 360 derajat yang dilakukan dengan cepat, dapat melatih kelincahan dan keseimbangan badan.”Secara umum dapat melancarkan peredaran darah. Tidak sebatas untuk kebugaran jasmani tapi juga psikis,” kata Sutapa.

Permainan yang dilakukan bersama-sama dapat menimbulkan perasaan bahagia, membangun kepercayaan, komunikatif dan interaktif pada anak.

Nah, kendati begitu, sebelum memulai permainan ini hendaknya lebih dulu melakukan pemanasan. Misalnya, dengan melakukan lari-lari kecil, gerakan penguruan atau peregangan kaki. Sehingga, otot tidak tegang. “Jika sewaktu-waktu terjadi salah gerakan, tidak terjadi cedera. Nah pemanasan untuk menghindari itu,” ucapnya.

Ingkling adalah salah satu permainan tradisional. Permainannya sederhana. Pemain harus berjalan dengan satu kaki untuk mengikuti sebuah pola yang digambar di atas tanah. Pola biasanya berbentuk petak-petak lalu diberi urutan angka.

Setiap pemain juga harus memiliki gacuk yang terbuat dari batu atau pecahan genting untuk kemudian dilempar sesuai urutan angka tersebut. Petak yang diberi gacuk tidak boleh dipijak oleh pemainnya. Setelah pemainnya menyelesaikan urutan angka di petak, pemilik gacuk berhak memiliki rumah atau petak yang tidak boleh dipijak oleh lawan.

Peneliti Utama Bidang Kajian Naskah Kuno Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jogjakarta Suyami mengatakan, di Jogjakarta ingkling  lebih banyak dimainkan anak perempuan. Permainan tersebut bisa dimainkan satu sampai beberapa orang dan tidak membutuhkan lahan yang luas.

Di tempat lain, ingkling ada yang menyebut sundamanda. Meski memiliki nama berbeda di tiap daerah aturan permainan ini tetap sama, yakni berjalan mengikuti pola tapi dengan tantangan menggunakan satu kaki. Selain itu, tiap pemain juga dituntut ketepatannya dalam melempar gacuk. Bila pemain gagal melempar gacuk atau berjalan mengikuti pola dengan satu kaki, dianggap kalah dan harus mengulangi dari awal.

Suyami menyatakan belum ada informasi yang valid tentang siapa penemu permainan tersebut dan pertama kali dimainkan di wilayah mana. Namun, diperkirakan permainan ingkling sudah dimainkan anak-anak sejak zaman penjajahan Belanda. Sebab ada pemberian nama Sundamanda yang berasal dari serapan kata Sunday – Monday, kemudian ditafsirkan sebagai cara untuk mengurutkan nama-nama hari bagi bangsa Eropa.”Namun, permainan ini dipastikan sudah ada sejak sangat lama,” ujarnya.

Permainan ingkling juga tidak selalu memiliki aturan yang baku, karena anak-anak biasa memainkannya sesuai dengan kesepakatan seluruh pemain. Namun aturan umumnya. Pemain dilarang menginjak garis dan petak lawan. Serta harus melemparkan gacuk sesuai urutan angka.

Di kalangan masyarakat, pola petak dan cara bermain ingkling juga terbilang sangat beragam. Namun di Jawa, yang banyak dikenal biasanya pola tangga, jamur, gunung dan lingkaran. Kemudian untuk cara bermainnya ada gacuk hanya sekedar dilempar lalu dibawa dengan satu tangan serta ada juga yang dibawa menggunakan satu kaki.”Tiap pola dan cara bermain ini biasanya memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri,” ujar Suyatmi.

Kepala BPNB Jogjakarta Dwi Ratna Nurhajarani menyatakan permainan ingkling memiliki makna tentang bagaimana manusia menjalani hidup. Dimana dalam aturan permainan ingkling, pemain harus mengurutkan lemparan gacuk sesuai angka agar bisa memiliki petak yang disebut sebagai rumah.  “Di situ bisa diartikan bahwa dalam kehidupan, manusia harus berjuang terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan hal yang diinginkan,” ujar Ratna.

Dalam permainan ingkling juga ada peraturan bahwa pemain tidak boleh memijak petak yang sudah dimiliki oleh lawan. Menurut Ratna, permainan tersebut seakan mengajarkan bahwa dalam kehidupan manusia juga tidak boleh mengambil hak milik orang lain meskipun tujuannya sama. “Sewaktu kecil mungkin kita tidak menyadari itu, namun ketika dewasa kita akan sadar bahwa permainan ingkling ini banyak mengajarkan pelajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan,” imbuhnya. (din)