RADAR JOGJA – Matanya belok. Warna bulunya didominasi cokelat marun. Ada corak putih di bagian muka, dada, dan keempat kakinya. Ekornya menjuntai panjang. Itulah si Gombloh.

Si Gombloh adalah seekor sapi. Tapi, bukanlah sapi biasa. Namanya pun spesial. Dalam dalam bahasa Jawa, nama itu memiliki arti giblah-giblah, gede, kekar, dan besar.

”Namanya (Gombloh) sesuai harapan saya,” ucap Rika Daru Efendi, pemilik Gombloh, di kediamannya Padukuhan Karang Asem RT 07 Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Selasa (22/7).

Gombloh adalah juara kontes sapi nasional yang diselenggarakan pada Maret 2020 lalu. Sapi ”monster” jantan jenis simmental tersebut kini berpindah kepemilikan. Kini dimiliki Presiden Joko ”Jokowi” Widodo.

Sang presiden membeli Gombloh seharga Rp 87 juta. Untuk hewan kurban yang akan disembelih di Istana Gedung Agung Jogjakarta saat Idul Adha tahun ini akhir Juli nanti.

Gombloh mendapat perlakukan istimewa. Rika, yang memeliharanya, memperlakukan dengan sangat lembut.

Rika memperlakukan layaknya teman. Dia melakukan apa saja untuk membuat sapi favoritnya nyaman.

Bahkan, Rika kerap mengajak Gombloh berkomunikasi. Tentu, komunikasi dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Gombloh sangat dimanja. Tak hanya diberi makanan hijauan. Suplemen tambahan pun diberikan.

Nafsu makan Gombloh sangat diperhatikan. Jangan sampai kondisi psikisnya drop sehingga emoh makan.

Rika tak ingin sapi bernama latin Bos Taurus itu stres. Dia tak ingin Gombloh kehilangan nafsu makan.

Rika memberi Gombloh jatah makan yang banyak. Porsi makannya tiga kali lipat dibanding porsi untuk sapi lokal.

Tiap hari disediakan empat ember besar. Ember itu berisi komboran. Campuran dari ampas tahu, vitamin, mineral, polar, dan saprofit.

Gombloh dimandikan rutin. Tiap hari.

Kandangnya selalu bersih. Kandang berukuran 2 x 3 meter tersebut dibersihkan dua kali dalam sehari.

Kesehatan Gombloh selalu dipantau. ”Pokoknya saya jaga betul. Saat Gombloh lelah, tidak satu pengunjung pun saya izinkan masuk,” ucap Rika.

Saat ini Gombloh  berumur 3,5 tahun. Sapi ini beli dari peternak di Kota Solo, Jawa Tengah. Harganya Rp 10 juta.

Ketika dibeli, umur Gombloh sekitar 1,5 tahun. Setelah dirawat sekitar 2,5 tahun, tubuh Gombloh melar. Bobotnya hampir satu ton. Seribu kilogram. Beratnya 996,5 kilogram.

Panjang badannya 177 centimeter. Tingginya 150 centimeter. Ukuran lingkar dada mencapai 234 centimeter.

Ukuran tersebut berdasarkan pengecekan terakhir yang dilakukan Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Pengecekan dilaksanakan 10 Juni lalu.

Rika mengaku yakin bobot Gombloh akan terus bertambah. Setidaknya, sebelum dibawa ke Istana Gedung Agung Jogjakarta, berat badan Gombloh akan lebih dari satu ton.

Keyakinan tersebut didasarkan nafsu makan Gombloh yang besar. ”Yakin,” ucapnya mantap.

Di sisi lain, Rika merasa berat melepas Gombloh. Apalagi, dia berencana mengikutkan sapi kesayangannya itu dalam kontes sapi di Jawa Timur pada Agustus mendatang.

Namun, dia mengurungkan niat itu ketika didatangi staf Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Disperpautkan) Kabupaten Bantul. Dinas tersebut mengajukan Gombloh sebagai perwakilan hewan kurban dari Bantul.

Gombloh diusulan sebagai sapu kurban usai unggul dalam penjaringan. Dari lima sapi beukuran besar yang masuk penjaringan, Gombloh yang terpilih.

Gombloh akhirnya dibeli oleh orang nomor satu di negeri ini. ”Haru. Antara sedih dan bahagia. Tetapi, juga sangat bangga,” ucapnya pria kelahiran 1991 itu.

Gombloh memiliki banyak prestasi mentereng. Dia menyabet penghargaan juara dalam Kontes Sapi Nasional Bupati Cup 2020 yang diselenggarakan Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi  Indonesia (APPSI) pada 14-15 Maret lalu di Pasar Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Gombloh menduduki juara kelima 5 kelas B (poel 2 pasang) nasional.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis BBVet Wates Suhardi mengaku mengusulkan Gombloh sebagai sapi kurban presiden berdasarkan mendapat instruksi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Instruksi itu ditindaklanjuti dengan melakukan mengujian terhadap banyak sapi. Termasuk uji kesehatan.

Uji kesehatan itu mencakup empat penyakit. Sapi harus bebas antraks, brucellosis (BR), septicemia epizootica (SE), dan cacing hati.
”Kalau bobot ada yang lebih berat. Tapi, yang lolos uji kesehatan hanya Gomboh,” jelasnya (23/7). (mel/amd)