RADAR JOGJA – Empat bulan ditutup karena Pandemi Korona (Covid-19), destinasi wisata Mangunan kembali dibuka Rabu (15/7). Meski kunjungan masih sepi, warga optimistis perlahan-lahan wisata mulai bangkit. Sejumlah persiapan pun sudah dilakukan. Mulai dari pembenahan kawasan dan penambahan spot-spot baru. Sekaligus mempraktikkan SOP Protokol Kesehatan Covid-19.

Ketua Koperasi Notowono Purwa Harsana menyebut, pembukaan destinasi wisata ini merupakan tahap awal. Atau dalam fase uji coba hingga akhir bulan ini. Ini bukan semata-mata ingin meningkatkan jumlah kunjungan. Tetapi lebih pada praktik uji coba sumber daya manusia (SDM)nya. Apakah memang sudah siap atau belum. “Bagaimana pengelola itu mempelajari dan mempraktikkannya langsung,” ujar pria yang akrab disapa Ipung ini.

Dikatakan, seandainya dalam uji coba sampai akhir bulan ini dievaluasi hasilnya benar-benar sudah siap, selanjutnya akan dirapatkan kembali. Pihaknya akan mulai mem-branding. Sehingga tidak akan ada target di setiap kunjungannya.

Adapun destinasi wisata yang dilakukan pembenahan dan penambahan kawasan wisata, antara lain, Bukit Mojo. Penataan area lanscape kawasan ini telah dilakukan. Penambah spot panggung kecil dan panggung panorama juga dilakukan. Terlebih ada penambahan Gardu Pandang di Buluk Raja. “Sehingga ada daya tarik baru bagi pengunjung,”tambah Ipung.

Renovasi rumah keong juga sudah usai. Sedangkan Kawasan Kaki Langit terdapat perombakan dan pembenahan di kawasan kuliner. Pembenahan semua fasilitas kuliner termasuk gubuk. Sementara destinasi lain yang sudah siap dibuka yaitu, Puncak Becici, Pengger, Pinus Sari, dan Seribu Batu. Disebutkan total pengeluaran untuk persiapan pembukaan destinasi wisata ini menelan anggaran kurang lebih Rp 2 miliar. Di antaranya, melakukan disinfeksi rutin dan berkelanjutan sejak Maret lalu. Kemudian menyiapkan segala fasilitas pengelola wisata ataupun biaya operasional selama pandemi berlangsung.

Dikatakan, usai dibuka, jumlah pedangang pun semakin bergeliat dalam pemulihan ekonomi warga sekitar. Jumlah pedagang juga meningkat. Yang dulunya berjualan kerajinan sudah banyak yang beralih profesi sebagai pedagang kuliner.

Nah, selama masa uji coba ini, biaya operasional tiket dan parkir masih seperti biasa. Biaya parkir Rp 2.000 dan harga tiket masih Rp 3.000. Kendati demikian, jika selama uji coba ini hasilnya tak cukup untuk pemenuhan biaya operasional. Namun tak menutup kemungkinan harga tiket disesuaikan.

Ke depan, jumlah kunjungan akan dibatasi. Berdasarkan informasi yang dia terima, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bantul akan memasang alat detektor pengunjung di pintu masuk obwis wisata. Dengan demikian, penerapan protokol kesehatan dan jaga jarak dapat lebih ditekankan untuk meminimalisasi persebaran virus korona. “Saat ini sistemnya masih meneruskan program input data,” katanya. Cara kerja detektor tersebut, jika jumlah kunjungan hampir menyentuh target, otomatis akan ada rambu yang menyala. Misalnya, kapasitas kunjungan dibatasi 500. Jika sudah mendekati jumlah kunjungan angka tersebut, pengunjung diperkenankan memilih destinasi lain yang lebih longgar.

“Kalau termo gun, masker, penyedian cuci tangan hingga pengaturan jarak pada warung makan, kami sudah siap,” tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo menyebut, secara umum pariwisata Kabupaten Bantul perlahan-lahan mulai bangkit di tengah pandemi. Kendati begitu, belum semua jenis wisata dibuka. Wisata outbond dan edukasi masih meredup. Pihaknya tetap berupaya mencari formulasi sembari menunggu instruksi pemerintah pusat. Bagaimana wisata dapat kembali berjalan namun dengan mengedepankan protokol kesehatan.”Wisata air, kolam renang, beberapa sudah ada yang buka. Tapi kalau outbond masih kami pertimbangkan,” ujarnya. (mel/din)