RADAR JOGJA – Ketua Umum Barahmus DIJ Ki Bambang Widodo menyatakan belum semua museum beroperasi normal. Dari total 38 anggota Barahmus DIJ baru 13 yang beroperasi. Seluruhnya telah terverifikasi terutama dalam penerapan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Bambang tak menampik protokol kesehatan 2019 sedikit menjadi batu sandungan. Terkait pengadaan sarana prasarana terkendala pada anggaran pengadaan. Alhasil belum semua pengelola museum menyanggupi penerapan Protokol Covid-19.

“Kendala ada protokol kesehatan dan belum memenuhi persyaratan. Seperti jumlah thermogun untuk mengukur suhu lalu wastafel tempat cuci tangan,” curhatnya ditemui di Museum Gunung Merapi, Jumat (24/7).

Para pengelola museum tak bisa mengandalkan tiket masuk. Terlebih aktivitas museum sudah terhenti dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan kebelakang. Artinya tidak ada pemasukan sebagai dana anggaran pengadaan sarana dan prasarana.

Saat ini Barahmus DIJ berharap adanya kucuran dana dari Dinas Kebudayaan DIJ. Berupa pemanfaatan dana keistimewaan DIJ guna mendukung operasional museum. Terutama dalam menyiapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Tiket masuk dari pengunjung belum bisa diandalkan dan mencukupi. Akan ajukan bantuan ke Disbud DIJ melalui danais. Semoga 38 museum bisa terpenuhi syarat thermogun dan tempat cuci tangannya,” katanya.

Untuk saat ini jajarannya masih melakukan uji coba. Berupa penerapan protokol kesehatan Covid-19 secara evaluatif. Tujuannya untuk mendapatkan formula yang tepat hingga akhirnya operasional museum kembali normal.
Barahmus, lanjutnya, juga telah menerbitkan pedoman umum operasional selama pandemi Covid-19. Acuan ini kemudian diterapkan oleh seluruh museum yang ada di Indonesia. Titik beratnya adalah implementasi protokol kesehatan dalam kunjungan ke museum.

“Harus penuhi SOPnya, jadi memang tidak bisa memaksakan buka. Harus tetap disiplin protokol kesehatan agar roda ekonomi kembali normal. Tentunya dengan membiasakan diri dengan adaptasi kehidupan baru,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara menuturkan operasional museum turut mengusung teknologi informatika. Berupa pemanfaatan QR Code sebagai pendataan para pengunjung. Selanjutnya mengusung metode pembayaran e payment untuk tiket masuk.

Jeda waktu non operasional dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19. Harapannya langkah ini dapat memberikan keyakinan kepada wisatawan tentang jaminan kesehatan dalam setiap museum.

“Memberikan keyakinan kepada wisatawan bahwa berkunjung di Sleman itu aman dan sehat. Sehingga wisatawan yang datang ke MGM atau Sleman pada umumnya tidak ragu lagi,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Sleman, ada 16 museum yang berada di bumi Sembada. Dari total tersebut baru Monumen Jogja Kembali (Monjali) yang beroperasi normal. Menyusul kemudian Museum Gunung Merapi yang masih tahap uji coba.

Selain sarana dan prasarana adapula kendala segmen pengunjung. Dia mencontohkan Museum Ulen Sentalu. Berada di lereng Gunung Merapi, museum ini memiliki segmen pengunjung yang berbeda. Didominasi oleh wisatawan mancanegara.

“Ulen Sentalu itu pangsa pasar wisata asing. Jadi selain sudah untuk mendatangkan tapi juga harus lebih hati-hati. Protokol harus dikuatkan untuk kesehatan agar bisa aman,” ujarnya. (dwi/tif)