RADAR JOGJA – Pemkot Jogja bisa dituntut secara hukum karena ada pengendara sepeda terperosok ke lubang galian pipa perusahaan daerah air minum (PDAM) sedalam tiga meter Senin (20/7). Pemkot dinilai lalai mengawasi jalan di wilayahnya.

Penggiat Sosial Kota Jogja, Elanto Wijoyono mengatakan pemkot bisa dikenakan sanksi pidana sebagai penyelenggara jalan jika lalai untuk segera memperbaiki jalanan yang rusak sehingga jatuh korban. Aturan ini masuk dalam dasar hukum Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22/2009 Pasal 273. Yang bunyinya, setiap penyelenggara jalan yang tidak dengan segera dan patut memperbaiki jalan yang rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Sehingga menimbulkan korban luka ringan dan atau kerusakan kendaraan ternyata dapat dipidana kiringan paling lama enam bulan atau denda maksimal Rp 12 juta.

“Ada di landasan hukum itu, karena faktanya memang sudah ada kejadian kecelakaan bahwa ada korban pengemudi tidak awas,” katanya kepada Radar Jogja Rabu (22/7).

Elanto menjelaskan ketika berbicara keselamatan di jalan raya ada banyak faktor. Tidak hanya faktor dari pengemudi maupun kendaraan, melainkan faktor keamanan jalan itu sendiri. Terlebih kondisi lokasi pekerjaan perbaikan jaringan pipa Perumda PDAM Tirtamarta itu dinilai faktor keamanan jalan sangat kurang. Karena ada faktor galian lubang proyek yang tidak diawasi oleh pemkot.

“Terlalu dini untuk menuduh korban, kalau memang ada perlindungan dan pengamnaan terhadap lokasi proyek tidak memadai pasti setiap siapapun yang lewat akan terancam keselamatannya dan membahayakan publik,” ujar Elanto yang terkenal dengan aksinya menghentikan pengendara moge yang melanggar lalu lintas itu.

Sehingga, setiap pekerjaan fisik yang berpotensi mengganggu pejalan kaki atau pengemudi harusnya ada beberapa bagian tidak hanya pengamanan untuk memagari sekeliling lubang. Melainkan juga pengamanan dalam bentuk visual seperti rambu-rambu lalu lintas dan lampu agar pengendara bisa melihat dari jarak jauh jika sedang ada proyek yang dikerjakan.

“Semoga ini tidak hanya berhenti pada upaya damai tapi harus ada pelajaran dan perbaikan sistem. Walaupun ini belum tentu ada yang menggugat harusnya itu disadari oleh otoritas,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Direktrur Utama Perumda PDAM Tirtamarta, Majiya mengatakan untuk pengamanan pekerjaan jaringan di lokasi jalan utama yang ramai dan padat itu sudah dilakukan rekayasa lalu lintas sebelumnya dengan memberikan rambu-rambu. Ditambah rambu water barrier untuk pengalihan jalan. “Kami akan selalu melakukan perbaikan sistem,” katanya.

Majiya menjelaskan, untuk proyek galian tersebut memang tidak bisa ditutup karena tengah melakukan pekerjaan tahapan terakhir yakni tes pipa. Ini untuk mengukur tekanan atau kekuatan debit air dari simpang empat Wirobrajan hingga jembatan Sayidan. “Kami ada tiga tahapan untuk menyelesaikan ini memang. Terakhir ini dari ujung ke ujung setiap pagi kami buka pipanya untuk tes. Tidak bisa ditutup karena untuk ngukur tekanan air,” jelasnya.

Tiga tahapan tersebut diantaranya tahap pertama adalah proses pemasangan pipa dari simpang Wirobrajan sampai jembatan Sayidan. Yang mengharuskan menggali jalan sekitar rata-rata 1,5 meter. Paling dalam 2 meter yaitu di jembatan Sayidan. Kemudian pipa dipasang, dan ditutup kembali dengan cara dipadatkan, pengecoran hingga pengaspalan.

Sementara, Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan selalu memerintahkan Dinas terkait untuk setiap malam melakukan ronda keliling melihat situasi di lokasi-lokasi adanya pekerjaan proyek fisik maupun adanya kerusakan lain untuk melakukan pengawasan. Terkait dengan korban, HP mengaku sudah diselesaikan oleh rekanan. “Korban dan keluarga memahami itu musibah dan rekanan bertanggung jawab atas musibah tersebut,” katanya. (wia/pra)