RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mulai menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Hanya saja menemui kendala. Sebagian kendaraan tangki air mengalami kerusakan.

Hari pertama agenda droping air menyasar dua kapanewon berlangsung Rabu  (21/7). Diawali dari Kapanwon Semanu meliputi Padukuhan Peyuyon dan Banyumanik, Kalurahan Pacarejo. Kemudian, Padusunan Ngalangombo dan Sendang di Kalurahan Dadapayu.

Kemudian Kapanewon Rongkop menyasar Kalurahan Karangwuni di Padukuhan Karangwuni dan Kerdonmiri. Selain itu di Kalurahan Semugih Padukuhan Kemesu. Masing-masing padukuhan akan mendapatkan kiriman empat kali.

“Tahun ini BPBD Gunungkidul mengaggarkan Rp 700 juta untuk droping air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki.

Dia mengungkapkan, wilayah terdampak kekeringan ditandai dengan permintaan droping air, dengan jumlah jiwa mencapai 101.181 orang. Rinciannya, Girisubo jumlah terdampak 1.102 kepala keluarga (KK), 41.780 jiwa. Kapanewon Semanu 293 KK, 1.244 jiwa, Rongkop 3.715 KK, 11.581 jiwa, Tepus 7.103 KK, 28.648 jiwa, Saptosari 282 KK, 950 jiwa dan Kapanewon Paliyan 4.941 KK, 1.6978 jiwa. “Pemkab telah meningkatkan status siaga darurat kekeringan sejak Mei 2020,” ujarnya.

Penetapan status diperlukan agar masyarakat mewaspadai potensi kekeringan. Terlebih saat memasuki puncak kemarau kemungkinan akan ada tambahan permintaan droping air dari kapanewon seperti Patuk, Gedangsari, Ngawen hingga Semin.

“Untuk droping air bersih kami hanya bisa menggunakan empat tangki dari tujuh tangki milik BPBD. Dua tangki harus menjalani perawatan karena rusak, dan 1 tangki digunakan untuk cadangan,” ucapnya. (gun/laz)