RADAR JOGJA – Para pedagang pasar di Magelang belum merasakan dampak era new normal, yang sekarang diganti adaptasi kebiasaan baru. Bantuan dari Pemkot Magelang, berupa pembebasan pembayaran retribusi dinilai tak banyak membantu.

“Retribusi dipotong dua bulan. Retribusi hanya kecil. Hanya 1200 rupiah. Tidak terasa,” tegas Ketua Paguyuban Pasar Rejowinangun Nasirudin, Senin (20/7). Menurut dia, bantuan yang diberikan pemkot tersebut belum membantu kondisi pedagang pasar.

Dia mencontohkan, saat ini pedagang semakin terhimpit kredit yang tak mampu dibayar. Sejauh ini pihak bank baru mau menyepakati untuk pengunduran waktu pembayaran. Padahal kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. “Bunganya tetap. Tambah lama tambah banyak. Yang diundur cuma waktunya saja,” keluhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup pedagang juga tidak mungkin mengajukan kredit lagi ke bank. Meski diakuinya, banyak sales perbankan yang menawari kredit. “Pedagang tidak berani kredit. Kalau bank yang masuk pasar banyak. Barang tidak laku tidak bisa diselesaikan dengan kredit,” jelasnya.

Menurut dia, meskipun telah memasuki adaptasi kebiasaan baru, para pedagang belum merasakan dampaknya. Padahal saat ini kasus aktif di Kota Magelang bertahan di angka nol. “Masih sepi. Semua terdampak kecuali sayuran dan sembako,” ujarnya.

Meskipun protokol kesehatan telah berusaha ditetapkan, bukan berarti resiko hilang. Selain itu, daya beli masyarakat belum kembali semenjak perekonomian jatuh karena pandemi. “Konsumen pasar mau beli juga tidak mampu,” ungkapnya. (asa/pra)