RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto memastikan rumah pemotongan hewan (RPH) Giwangan siap melayani pemotongan hewan kurban. Kebijakan ini sesuai anjuran pemerintah terkait pemotongan hewan kurban dalam masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Sugeng tak menampik adanya kemungkinan lonjakan hewan kurban atas penerapan skema tersebut. Karena mayoritas pemotongan hewan kurban berlangsung di RPH. Walau warga tetap boleh menyelenggarakan dengan penerapan protokol kesehatan Covid-19.

“Kuota tahun ini 200 ekor untuk lembu dan 200 ekor untuk kambing dan domba, tahun lalu 115 ekor. Pak Wali (Haryadi Suyuti) minta tambahi sekitar 235. Masih bisa, yang penting adalah panitia (penyelenggara kurban) bersedia berkenan selesai sampai jam 1 siang,” jelasnya, ditemui di RPH Giwangan, Selasa (21/7).

Berlakunya skema ini tentu berimbas pada jam operasional RPH Giwangan. Setiap harinya pemotongan hewan kurban dibatasi sebanyak 50 ekor. Hari pertama diawali dari pukul 07.00 hingga 12.00. Untuk pelaksanaan hari kedua hingga keempat dari 01.00 hingga 15.00.

Sugeng turut menyampaikan data tahun sebelumnya. Tercatat ada 529 lokasi penyembelihan hewan kurban di Kota Jogja. Tercatat ada 2.700 lembu dan 4800 ekor kambing dan domba. Perputaran uang kala itu mencapai Rp 62 Miliar.

“Kami sampai jam 3 (15.00) enggak masalah tapi panitia berharap Dzuhur selesai. Hanya perkara waktu sebenarnya,” katanya.

Sugeng memberikan lampu hijau atas pemotongan hewan kurban mandiri. Hanya saja tata cara pelaksanaan wajib sesuai protokol Covid-19. Diawali dengan pengajuan ijin ke Pemkot Jogja. Kebijakan ini berlaku ketat bagi seluruh wilayah di Kota Jogja.

Pihaknya juga telah menyiapkan protokol penyembelihan di RPH Giwangan. Berupa pembatasan petugas yang melakukan penyembelihan. Setidaknya ada 20 orang yang melakukan pemotongan hewan kurban selama hari raya Idul Adha.

“Sudah kami siapkan, hanya 20 orang yang didalam RPH. Sohibul kurban kami larang masuk ke dalam. Untuk jaga jarak orang di dalam ruangan. Tapi kalau mau datang silakan,” ujarnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov DIJ Tri Saktiyana mengakui ada penurunan daya beli hewan kurban. Tapi stagnasi daya beli ini sebanding dengan harga jual hewan kurban. Tercatat belum ada kenaikan signifikan dibanding tahun lalu.

“Terjaganya harga (hewan kurban) karena merosotnya harga beli. Kalau tahun lalu bagaimana menurunkan harga sekarang diubah menjadi mewajarkan harga. Tujuannya untuk menjaga harga stabil,” katanya.

Pandemi Covid-19 juga berdampak pada protokol pemotongan hewan kurban. Termasuk pada teknis pengiriman hewan kurban maupun hasil pemotongan. Dia juga mengimbau agar warga mematuhi anjuran pemerintah. Terutama pemotongan hewan kurban yang dilakukan secara mandiri.

“Berharap bisa menggunakan RPH sebagai penyembelihan hewan kurban. Kalaupun terpaksa di tempat masing-masing, ya harus ada protokol kesehatan dan memberitahu Pemkot Jogja agar ada pengawasan,” sarannya. (dwi/tif)