RADAR JOGJA – Terjadinya lonjakan kasus positif di DIJ merupakan konsekuensi dari dibukanya aktivitas ekonomi serta pelaksanaan tes swab dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) lebih masif. Saat ini Gugus Tugas penanganan Covid-19 sedang mengajukan permohonan PCR kit kepada pemerintah pusat agar pelaksanaan swab masal dapat dilakukan secara meluas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengakui, DIJ yang membuka diri berkontribusi pada penambahan jumlah kasus. Terutama kasus impor atau kasus yang sumber penularannya berasal dari luar daerah. “Di samping memang swab lebih masif, tapi juga mulai terbukanya aktivitas masyarakat. Ini fase yang perlu perhatian kita semua, termasuk Gugus Tugas,” jelasnya Senin (20/7).

Bila aktivitas ekonomi mulai dibuka, walaupun masih dalam tahap percobaan atau uji coba, potensi dan kerentanan juga akan meningkat. “Mobilitas dari daerah lain ke sini dan sebagainya. Ini perlu pengawasan,” tandasnya.

Biwara memastikan kapasitas rumah sakit masih mencukupi untuk merawat pasien korona. Saat ini DIJ memiliki 29 tempat tidur critical untuk merawat pasien kritis. “Sejauh ini baru dipakai satu tempat tidur,” katanya.

Ada pun kapasitas di 27 RS rujukan Covid-19 adalah 321 tempat tidur, 136 di antaranya telah ditempati pasien positif. “Diharapkan tingkat kesembuhan juga meningkat, sehingga masuk dan keluarnya akan berpengaruh dari penggunaan tempat tidur,” katanya.

HARUS DISIPLIN DONG: Pengunjung tidak mengenakan masker dengan benar
saat berada di kawasan Malioboro, Jogja, (20/7). ( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Sedangkan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan PCR kit juga masih mencukupi. Rincian ketersediaan yakni 4.100 RT PCR , 1.700 RNA, dan 8.100 VTM. “Kami juga sedang mengajukan PCR kit ke Jakarta karena belum ada kiriman. Mengajukan sekitar 23.500 PCR,”  ungkapnya.

Saat ini tes swab difokuskan untuk kalangan tenaga kesehatan (nakes). Setelah menerima bantuan dari Jakarta, pelaksanaan tes akan dilakukan secara lebih meluas. “Penggunaan kan seusai stok dan prioritas. Prioritas masih di nakes RS dan puskesmas. Kami menunggu bantuan untuk bisa dilakukan lebih masif,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mengatakan, banyaknya kasus positif yang terdeteksi dapat menjadi acuan terkait langkah ke pencegahan penularan virus. “Saya menilai kondisi ini lebih baik daripada ada banyak kasus positif tapi tidak ketahuan. Itu lebih berbahaya,” katanya.

Namun Huda meminta agar Gugus Tugas mempersiapkan kebutuhan RS dan tenaga kesehatan agar penanganan Covid-19 dapat terus berjalan optimal. “Ini tidak boleh ada APD dan perlengkapan lain yang tidak tersedia atau kurang,” tegasnya.

Kejadian di Surabaya dan daerah lain cukup jadi pelajaran bagi DIJ, di mana banyak tenaga kesehatan yang tertular dan meninggal akibat korona. “Kesehatan dan daya tahan rekan rekan tenaga kesehatan harus dijaga betul. Jangan sampai mereka ada yang terpapar, apalagi tumbang,” katanya.

Huda lantas meminta masyarakat agat tak salah mengartikan istilah new normal dengan situasi yang sudah aman. Jika kasus positif masih melonjak, ia mengusulkan agar masa tanggap darurat diperpanjang sampai kondisi menjadi stabil. “Terutama agar kondisi masyarakat tidak lengah. Recovery ekonomi tetap harus jalan, tetapi protokol kesehatan harus semakin ketat,” jelasnya. (tor/laz)