RADAR JOGJA – Lama waktu merintis usaha tidak menjadi jaminan bisa bertahan. Pasar desa di Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen misalnya, selama setengah abad dikelola namun sulit berkembang. Mereka kemudian memutuskan bedol pasar dan mencari peruntungan di lokasi baru.
Lurah Ngleri, Supardal mengatakan, pasar Pon wilayah setempat dibangun lebih dari 50 tahun lalu, tapi belum ramai. Lokasinya kurang strategis karena terlalu menjorok ke pemukiman dan jauh dari akses jalan utama. “Oleh karena itu kami tindaklanjuti dengan usulan pembangunan pasar baru,” ujarnya.

Gayung bersambut, setelah menentukan lokasi baru dan menghitung anggaran disepakati pasar pindah ke tempat yang lebih strategis berada di pinggir jalan utama desa. Pembangunan Pasar Tani membutuhkan anggaran Rp 690 juta. Dana diperoleh melalui alokasi anggaran dana desa.

“Pembangunan dilakukan secara bertahap mulai 2016 dan sekarang sudah jadi,” ungkapnya.

Dia berharap di lokasi baru bisa memacu geliat ekonomi yang lebih baik sehingga perekonomian masyarakat bisa lebih sejahtera. Pasar Tani ada 30 los dan sebelas kios. Rencananya tempat berjualan akan ditempati oleh para pedagang yang berasal dari Pasar Pon. “Semuanya kita boyong ke lokasi pasar baru,” ucapnya.

Diharapkan pasar baru bisa sesuai dengan harapan dan bisa menunjang kemajuan ekonomi yang lebih baik. Kemarin secara simbolis dilakukan prosesi pemindahan pasar. Proses pemindahan dimulai dengan kirab puluhan pedagang dari pasar lama di Pasar Pon menuju lokasi baru di Pasar Tani. Selain boyongan para pedagang juga dilakukan ritual mengubur sejumlah benda yang berasal dari pasar lama tepat di tengah pasar.

Sementara itu, anggota DPR RI Gandung Pardiman berkesempatan menyaksikan proses boyongan pasar. Dia memberikan apresiasi terhadap pembangunan pasar karena sebagai upaya menggerakan roda ekonomi di masyarakat. “Harus didukung karena pasar bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga,” kata Gandung. (gun/bah)