RADAR JOGJA – Dalam kontestasi Pilkada Gunungkidul 2020 nanti, sudah ada dua paslon yang diusung parpol. Sayangnya kedua paslon mendapat perlawanan dari internal masing-masing parpol pengusung maupun pendukung.

Pasangan calon (paslon) yang diusung PDI Perjuangan Bambang Wisnu Handoyo-Benyamin Sudarmadi, serta Sutrisno Wibawa-Ahmad Ardi Widanto yang diusung Partai Demokrat tidak sepenuhnya didukung kader parpol pengusung.

Wakil Ketua Bidang Organisasi DPC PDI Perjuangan Gunung Kidul Danang Ardiyanta mengatakan, tidak adanya kader yang mewakili partai dalam kontestasi pilkada mendatang menjadi pemicu kekecewaan. Dia menyebut sosok Benyamin Sudarmadi patut dipertanyakan. “Tidak ada yang salah dalam keputusan DPP. Sebab keputusan DPP itu dilindungi oleh AD/ART partai dan bersifat final. Hanya saja nama Bemyamin Sudarmadi itu tidak masuk dalam tujuh nama yang dijaring oleh DPC dan DPD PDIP pada batas waktu yang ditentukan,” ujarnya, Minggu(19/7).

Kata Danang, kebanyakan orang tidak tahu permasalahan tersebut. Sebab pada batas waktu yang ditentukan, nama Benyamin Sudarmadi tidak mendaftar. Seperti diketahui Danang Ardiyanta juga masuk dalam daftar tujuh nama yang terjaring di DPC maupun DPD PDIP. Dia mendaftar dalam penjaringan jadi satu. “Ini bukan masalah saya (pribadi) dapat rekomendasi atau tidak, tapi tidak adanya kader yang mewakili partai dalam kontestasi Pilkada mendatang,” ujarnya.

Keputusan membelot dari amanat partai menurutnya bukan sikap mutungan. Jika berbicara loyalitas itu hal lain. Dia lebih suka loyal pada idealisme saya yang lahir dari sejarah panjang dari pada loyal pada ‘baju’ yang memang tidak layak cukup untuk menampung idealisme. “Yang pasti, saya akan mundur dulu dari jabatan pengurus partai. Selanjutnya setiap gerakan saya akan saya publish untuk edukasi berpolitik masyarakat,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua DPD PDI Perjuangan DIJ Nuryadi seusai rapat virtual dengan DPP PDI Perjuangan terkait rekomendasi paslon, Jumat (17/7), meminta tidak ada yang perlu dipersoalkan terkait pilihan paslon yang diusung. Menurut dia, untuk mendaftar sebagai calon kepala daerah dari PDI Perjuangan bisa dilakukan di DPC, DPD maupun langsung DPP PDI Perjuangan. “Tapi keputusan final ada di DPP,” tegas Ketua DPRD DIJ itu.

Penolakan juga dilakukan mayoritas Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Demokrat Gunungkidul yang menolak paket Sutrisno Wibawa-Ahmad Ardi Widanto.
Koordinator PAC Partai Demokrat Gunungkidul Ngatimin mengatakan, dari total 18 PAC, 15 di antaranya menolak duet Sutrisno-Ardi. Akar rumput kompak menghendaki Mayor Sunaryanto, karena dinilai sejalan dengan hati nurani. “Tidak masalah beda dan kami sudah sepakat mendukung Mayor Sunaryanto,” kata Ngatimin, Minggu.

Menurut diaa, keputusan mendukung Mayor Sunaryanto tidak lepas peran dari yang bersangkutan membina mayoritas PAC Demokrat di Gunungkidul. Jalinan kerja sama yang telah terjalin sejak empat tahun lalu. “Sebagai orang Jawa harus menghargai kerja sama yang telah terjalin sejak lama,” ucap tokoh yang juga mencabat sebagai Wakil Sekretaris DPC Demokrat Gunungkidul itu.
Karena itu mayoritas PAC sepakat memberikan dukungan kepada calon yang beda dari perintah DPP. Kata dia, meski tidak sejalan dengan keputusan DPP, bukan berarti tidak mencintai parpol berlambang mercy. “Hati kami tetap Demokrat, namun kalau partai tetap memberikan sanksi kami siap,” tegas mantan anggota DPRD Gunungkidul itu.

Sementara itu, Ketua DPC Demokrat Gunungkidul, Supriyani Astuti menegaskan, sesuai dengan rekomendasi DPP, Demokrat akan mengusung Sutrisna Wibawa dengan Ahamd Ardi Widanto. Tidak hanya rekomendasi, tapi sudah ada Surat Keputusan (SK) tertulis dari DPP. “Jadi bapaslon itu yang akan diusung dalam pilkada,” ungkapnya.

Mengenai sanksi terhadap kader Demokrat yang tidak loyak terhadap keputusan partai dan justru mendukung calon lain, Yani menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut kepada DPD Demokrat DIJ. “Kami tunggu instruksi dari DPD,” tuturnya. (gun/pra)