RADAR JOGJA – Kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan bencana perlu jadi perhatian. Adanya kesiapsiagaan dari kompenen masyarakat diharapkan bisa meminimalkan risiko dampak bencana.

Ketua Komisi A DPRD DIJ mengatakan, saat ini status Merapi adalah Waspada. ”Kita belum tahu apakah ada peningkatan atau atau tidak. Rekomendasi perlu adanya peningkatan kerja sama ada simulasi respons tanggap bencana dari Pemprov DIJ dengan Jawa Tengah agar bisa jalankan mitigasi dampak bencana di tengah pandemi Covid-19,” katanya belum lama ini.

Eko menegaskan, peningkatan kerja sama hingga unsur perangkat desa diperlukan dalam antisipasi dampak bencana di tengah masa tanggap darurat Covid-19.  Harapannya, ke depan lewat simulasi antisipasi dampak bencana Merapi ini bisa tercipta masyarakat yang tangguh bencana.

Komisi A DPRD DIJ selain rekomendasikan simulasi tanggap bencana, juga menyampaikan pula perlunya sikap disiplin masyarakat untuk bisa terus disiplin jalankan protokol kesehatan. Taati rekomendasi pemerintah,  jaga jarak.

”Semoga kita semua bisa lalui krisis pandemi Covid-19 dengan semangat gotong royong. Meski tengah fokus menangani dampak Covid-19, semua harus memahami bahwa ada bahaya dari aktivitas gunung Merapi yang kini masih aktif. Simulasi yang terjadwal berkaitan dengan antisipasi dampak bencana diperlukan saat ini,” tandasnya.

Melalui simulasi yang terjadwal, masyarakat diharapkan bisa bersama bergotong royong mengantisipasi dampak bencana. Secara khusus, masyarakat di sekitar lereng Merapi, utamanya yang berada di kawasan rawan bahaya dimohon untuk tetap waspada.  ”Saat ini sudah tersedia Dana Merapi Rp 5,5 miliar. Kami harapkan pemda menambah kapasitas anggaran untuk Merapi,” kata Eko.

Sesuai dengan data dari BPPTKG Jogjakarta kondisi Gunung  Merapi masih Status Waspada sejak 21 Mei 2018. Laporan Aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 6 Juli 2020 pukul 00.00-24.00 WIB memberikan rekomendasi jarak bahaya dalam radius 3 km dari puncak Merapi. Di luar radius tersebut, masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa. (kus/ila)