RADAR JOGJA – Yoyo, mulai dikenal di Indonesia sekitar 1930. Atau bertepatan berakhirnya periode sejarah Hindia Belanda. Yoyo merupakan permainan lempar tangkap menggunakan tali.

Pengamat permainan tradisional Ananta Hari Noorsasetya menuturkan, yoyo berasal dari China. Dan sudah populer di sana sejak sekitar 1780-an. Yoyo adalah permainan mendunia. Karena hampir setiap negara pernah memopulerkan permainan ini. Pada 1928, yoyo pernah populer di Filipina dan Amerika Serikat. Bahkan, sebuah perusahaan memproduksi yoyo secara besar-besaran di Amerika yang dipelopori oleh Mister Donald. Tidak hanya memopulerkan, tetapi mengembangkan dan memasarkan di seluruh dunia. “Bahkan ada festival yoyo di berbagai negara,” ungkapnya.

Nah, yoyo ini termasuk permainan tertua kedua setelah marionet atau permainan boneka menggunakan tali. Istilah yoyo berasal dari kata tayoyo yang berarti memutar. Seperti halnya saat tali yoyo dilempar kemudian di tarik kembali maka tali akan menggulung di antara kedua piringannya. Layaknya memantul dan piringan berputar.

Dikatakan, yoyo yang populer kala itu sudah ada beragam jenisnya. Ada yang terbuat dari tanah liat, kayu, besi, dan kini sudah berkembang dengan fiber. Namun, pertama kali yoyo dikenal di Indonesia, melihat potensi kekayaan alam tumbuh-tumbuhan inilah sehingga yoyo kala itu dibuat menggunakan kayu.

Seiring perkembangan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini sudah banyak alat bubut dengan teknologi tinggi yang mampu menghasilkan dengan mudah dengan bahan fiber. Simpel, tingal cetak jadi.
Dia mengatakan, sebelum terdapat perusahaan luar negeri yang penyuplai cat ke Indonesia, yoyo diwarnai dengan pewarna alam dengan corak simpel. Namun, seiring masuknya pemasaran cat, corak piringan pun mulai tampak variatif. Warna lebih cerah dari sebelumnya.

Kini, bentuk yoyo pun sudah variatif. Ada yang dua piringan dan ada pula tiga piringan. Ada yang piringannya tipis ada pula yang tebal. Ada yang dua piringan dan ada pula tiga piringan. Begitu juga dengan tarikannya. Cenderung bervariatif. Ada yang menggunakan satu tali bahkan lebih. Adapun permainan saat ini tak hanya dilakukan untuk anak-anak yang cenderung dipermainkan dengan teknik dasar. Tetapi juga kalangan profesional penggiat hobi. “Permainan ini banyak manfaatnya. Selain melatih motorik, pemain dituntut harus kreatif. Bagaimana menyeimbangkan gerakan dan tangkapan,” ujarnya.

“Nah, jika sudah lihai mengatur keseimbangan istilahe alamiah, maka mau dilempar seperti apa dan dengan teknik lempar seperti apapun maka yoyo akan kembali dan tetap tertangkap,” imbuhnya. Mau menyamping, ke bawah maupun zig zag seperti yang dilakukan para profeaional pada umumnya.

Pada era 2000-an. Mulai tampak transisi permainan yoyo. Yang dulunya disebut permainan tradisional, perlahan mulai menjadi permainan profesional. Sebab, permainan ini mulai luntur digenerasi milenial. Terlebih seiring munculnya permainan modern. “Nah, ini menjadi PR bersama. PR bagi para orangtua untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anaknya,” ucapnya.(mel/cr2/din)

Butuh Waktu untuk Jago Trik

Yoyo. Anak-anak dulu tidak asing lagi dengan permainan ini. Yoyo sangat digemari anak laki-laki. Tak jarang perempuan juga memainkan.
Awalnya, yoyo terbuat dari kayu. Seiring berkembangnya zaman, medianya juga dari plastik hingga logam. Bentuknya pun juga unik-unik.

Untuk memainkan dengan trik yang sulit itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak sedikit orang yang sudah beberapa lama bermain yoyo, tetapi belum juga fasih memainkan permainan itu.

Semakin ke sini, permainan itu juga banyak variasi atau gaya memainkannya. Semakin jago, memainkannya akan menggunakan teknik atau trik yang sangat rumit dan menarik perhatian orang yang ada di sekelilingnya.

Kalau sudah bisa bermain trik dengan gaya yang sulit, pasti akan merasa dirinya keren. Karena ditonton orang-orang dan terkadang memang tidak semua orang bisa memainkan yoyo dengan fasih dan lancar. Untuk pemula, biasanya gayanya standar saja dan yoyo hanya berputar sebentar.

Kini, permainan itu terlihat sudah jarang yang memainkan, kecuali para penggemar atau komunitas pecinta permainan itu. Sangat disayangkan, padahal permainan itu juga dipercaya dapat melatih otak kanan dan otak kiri. Salah seorang yang menyayangkan adalah Alfian Diro Samodro, 20. “Sayang sih, sekarang handphone (HP) lebih disenangi oleh anak-anak,” katanya.

Dilanjutkan, ketika berada di bangku SD hingga terakhir kelas satu SMP, dia sempat menggandrungi permainan tersebut. Bahkan, setiap pulang sekolah atau jam istirahat dia dan teman-temannya sering memainkan yoyo. “Untuk hiburan. Kalau bisa bermain dengan gaya yang rumit dan berhasil rasanya puas,” ujar mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta itu.

Permainan itu dulu sempat hampir satu sekolah anak laki-laki punya. “Jadi waktu istirahat gitu, bareng-bareng main. Ada yang cuma iseng untuk mengisi kegabutan. Kadang ada yang tanding bagus-bagusan trik,” sambung dia.

Ada yang adu trik, bikin bentuk triangle dan sebagainya. Ada juga yang tarung yoyo, dia menyebutnya ‘gathuk-gathukan’. Yang yoyonya terpental, itu yang kalah. “Ada juga yang lama-lamaan ‘nggleser’ atau berputar. Mainnya macem-macem, yang jelas sesuka hati yang punya yoyo,” lanjutnya

Dulu, dia senang menggunakan yoyo yang dibuat dari bahan plastik. “Yang menyala saat berputar. Karena ada baterainya dan bagus,” katanya.

Menurutnya, yoyo berbahan kayu jauh lebih susah untuk mencoba bermacam trik permainan. Karena tengahnya sempit dan tidak licin, sehingga yoyo lebih cepat berhenti. Berbeda dengan yang berbahan logam atau plastik, biasanya lebih lama berputar.

Sebenarnya, permainan yoyo ini banyak istilah-istilah untuk masing-masing trik. “Tapi saya kurang begitu paham dan familiar, saya dulu suka mencontoh gaya dari teman-teman lain yang lebih jago. Kadang ya suka mencoba-coba sendiri. Dan butuh waktu lama untuk memfasihkan,” ucap dia.(cr1/din)

Bernostalgia dengan Permainan Jadul

Astika Yunita, penjual permainan tradisional mengatakan, yoyo dari kayu masih banyak dicari. Peminatnya masih banyak. “Mungkin mereka ingin bernostalgia dengan permainan zaman dulu,’’ katanya.

Astika menjelaskan pemesanan yoyo tidak hanya satuan melainkan dalam jumlah banyak atau grosiran. Di luar pandemi Covid-19, dia sering mendapat pemesanan baik untuk souvenir pernikahan, market day sekolah, event tahunan, event budaya, maupun individu masyarakat. “Bahkan dalam waktu dekat ada pesanan untuk Agustusan,’’ ujarnya.

Menurut warga Kepuh, Klitren, Gondokusuman ini biasanya persediaan lebih banyak untuk sekolah, untuk mengenalkan permainan tradisional kepada generasi milenial. Yoyo kayu ukuran kecil seharga Rp 5.000. Sedang Rp 8.000. Yoyo super berbahan kayu halus ditambah plitur Rp 10.000. (wia/kur/din)