RADAR JOGJA – Pemandian Tamansari sungguh eksotik. Arsitektur bangunannya indah. Kaya filosofi, penuh pesona.

Destinasi wisata yang berada di lingkungan Keraton Jogja tersebut merupakan peninggalan Sultan Hamengku Buwono I. Didirikan sekitar tahun 1758. Usianya sudah lebih dua abad. Sekitar 262 tahun.

Kala itu, Tamansari merupakan tempat khusus untuk pemandian keluarga raja. Selain itu, berfungsi pula sebagai benteng pertahanan pada masa penjajahan Belanda.

Ada banyak spot menarik di kompleks ini. Pertama adalah area kolam. Terdapat tiga bagian kolam. Di bagian timur gerbang pintu masuk, berderet tiga jenis kolam. Yaitu, umbul penguras kolam yang difungsikan untuk raja, umbul kawitan untuk putri-putri raja, dan umbul pamuncar untuk selir raja.

Di sekeliling kolam dihiasi bunga-bunga dalam pot. Setiap sudut dan bagian tengah kolam terdapat ornamen khas serupa teratai. Patung kepala naga juga menghiasi kolam itu.

Sebelum memasuki area ini terdapat gerbang berornamen khas. Ornamen perpaduan arsitektur Jawa dan Tiongkok.

Spot lainnya yakni apura Panggung. Lokasinya berdekatan dengan area kolam. Area ini memiliki tangga yang terhubung dengan panggung yang menjadi tepat pribadi raja. Dari panggung tersebut, raja menikmati suasana Tamansari yang indah. Sesekali, kala itu, raja menikmati beragam pertunjukan tari-tarian dan karawitan.

Ada pula Gapura Agung. Lokasi ini dahulu menjadi area transit kereta kencana Kasultanan. Gapura ini memiliki berhhias perpaduan ornamen bermotif sulur dan sayap-sayap burung.

Kompleks Tamansari juga memiliki Sumur Gamuling. Yakni, masjid yang berada di bawah tanah. Bentuknya melingkar 360 derajat. Dikelilingi lima tangga. Layaknya panggung.

Di bawah ”panggung” terdapat rongga yang konon dibawahnya terdapat sumber air. Sedangkan pada bagian lantai dasar masjid ini terdapat lorong-lorong layaknya pintu air.

Bangunan artistik lainnya yaitu Gedung Kenongo. Tempat ini digunakan sebagai tempat perjamuan raja.

Di sebelah utara Tamansari terdapat Pulau Cemeti. Bangunan ini memiliki gaya khas menjulang tinggi. Konon, dahulu sekeliling bangunan ini adalah danau buatan. Keluarga keraton hendak menuju lokasi ini harus menggunakan perahu.

Wisatawan mulai kembali mendatangi destinasi Tamansari yang terletak di Kecamatan Kraton, Kota Jogja. Sejak ditutup akibat pandemi virus korona (Covid-19) beberapa waktu lalu, Tamansari dibuka untuk umum.

“Sudah mulai ramai. Apalagi, pas weekend,” ungkap Ketua Kampung Wisata Tamansari Ibnu Titiyanto saat ditemui Rabu (15/7).

Saat weekend, jumlah kunjungan wisata mencapai tiga sampai empat putaran atau kelompok. Sekali putaran terdiri sepuluh orang. Tarifnya Rp 10 ribu.

Sebelum memasuki area Tamansari, wisatawan dikelompokkan. Mereka wajib menaati standar kesehatan pencegahan virus korona. Wajib mencuci tangan. Suhu badan dicek.

Tiket tanda masuk diambil oleh salah seorang anggota kelompok. Mereka dipandu guide. “Waktu dan jarak diatur. Jangan sampai terjadi tumpukan. Kita dipantau ketat. Jangan sampai ada klaster baru (penyebaran virus korona,” ucap Ibnu. (mel/amd)