RADAR JOGJA – Berawal dari itulah membuka pandangannya untuk konsen pada problem sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan. Hingga dia memantapkan diri menjajaki dunia politik. Pada 1999 ketika Nahdlatul Ulama (NU) membentuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia diberi amanah menjadi pengurus partai. Karirnya terbilang moncer. Pada 2004 oleh partai dia dicalonkan mengikuti pesta demonstrasi dan berhasil menduduki kursi DPRD DIJ dari Bantul. Kemudian, 2009 karirnya¬† kembali moncer karena terpilih kembali sebagai anggota dewan DPRD DIJ hingga 2014. Pada 2015 dia memutuskan mengganti gerbong legislatif menjadi eksekutif. Oleh Partai Gerindra dan PKB, dia dipilih langsung mendampingi Bupati Bantul Suharsono sebagai Wakil Bupati Bantul periode 2016 -2021.”Ya begitu singkatnya,” ungkap Halim.

Suami Emi Masruroh itu menyebut perjalanan karirnya itu memang tidak mulus. Dia pernah gagal dalam pemilihan legislatif ke III pada 2014. Dia harus menelan pil pahit. Menguras¬† habis asetnya untuk mengikuti perhelatan tersebut. Dan sempat tak mendapat restu dari sang istri seketika kembali berkiprah di biadang politik selanjutnya. “Ibarat makan sambel. Pedes-pedes tapi nggak ada kapoknya,” ungkap Halim disertai tawa.

Tak ingin larut dalam belenggu kesedihan dia memilih menghadapi masalah tersebut. Patang menyerah dia meyakinkan, membujuk Emi dan keluarganya hingga lambat laun mendapatkan restu untuk mengajukan diri menjadi bacalon wakil bupati kala itu.

Meski mengampu tanggung jawab besar berkaitan dengan banyak orang. Dia berprinsip keluarga adalah prioritas pertama. Di sela kesibukan dinas, tak lupa menyempatkan diri berkumpul dengan keluarganya. Jika memiliki waktu luang, sesekali Halim dan keluarga refrhesing dengan rekreasi, jalan-jalan atau bercengrama ria dengan keluarga dan para tetangga di kediamannya Singosaren, Wukirsari, Imogiri, Bantul. “Kadang main musik. Ngobrol santai dengan tetangga. Di luar pembahasan pemerintahan,” ucapnya.

Memiliki background keluarga pesantren sekaligus jebolan pendidikan non formal di pesantren ini membuat Halim menjadi sosok yang religius. Hingga warga sekitar tempat tinggalnya memanggilnya dengan sebutan pak kiai. Tradisi pesantren memengaruhi pandangan maupun budayanya. Dua hal yang dia garis bawahi yakni, selain beribadah kepada Tuhan juga berbuat baik kepada sesama. “Manusia hidup di dunia ini mengemban banyak amanah. Beribadah kepada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Tinggal tugasnya manusia untuk menjalankan,” ucap bapak dua anak ini. (din)