RADAR JOGJA – Limbah produksi batik di Kulonprogo mendapat sorotan Komisi C DPRD DIJ. Dewan menilai sosialisasi perda harus dilakukan dengan benar kepada para perajin, sehingga limbah yang berpotensi menyebabkan pencemaran bisa terkelola dengan baik.

“Pengelolaan limbah yang benar juga akan berdampak pada kelestarian ekosistem alam tetap terjaga. Kesadaran harus dibangun, limbah harus diolah sesuai ambang baku mutu,” ucap Anggota Komisi C DPRD DIJ, Lilik Syaiful Ahmad, Kamis (16/7).

Ditegaskan, Kulonprogo menjadi salah satu setra produki batik di DIJ. Sebelum menjadi anggota dewan, dirinya juga sempat terjun langsung mengembangkan bisnis batik dengan menggandeng perajin lokal Kulonprogo. “Jadi saya tahu persis,” tegasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulonprogo, Sumarsono menyatakan, Pemkab Kulonprogo sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomer 7/2016 tentang Ambang Baku Mutu Air Limbah. Pihaknya juga selalu mengingatkan para pelaku industri batik agar libah tidak langsung dibuang ke sungai.

“Limbah yang dibuang harus diolah dulu dalam instalasi hingga memenuhi ambang baku mutu, agar air tidak menimbulkan pencemaran,” ucapnya.

Menurutnya, produksi limbah perajin batik di Kulonprogo masih terbatas. Namun dengan geliat pertubuhan industri ini, sangat memungkinkan produksi limbah bertambah. “Hal ini harus diantisipasi sejak dini, agar limbah yang dihasilkan bisa terjaga,” ujarnya.

Dijelaskan, sentra produksi batik di Kulonprogo ada di Kapanewon Lendah dan Galur, pihaknya juga siap mendampingi para perajin dan pengusaha batik agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan aturan yang ada.

“Saat ini Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sudah ada, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Kedepan IPAL yang sudah ada harus bisa difungsikan kembali. UGM juga sudah memberikan hibah alat portabel pengolahan limbah,” jelasnya.

Perajin batik, Hanang, warga Lendah berharap, dukungan dan fasilitasi dari pemerintah terhadap pengembangan batik di Kulonprogo sejauh ini sangat membatu. “Tidak terkecuali dalam pengolahan limbah dan sarana pemasaran lainnya,” katanya. (tom/bah)