RADAR JOGJA – PDI Perjuangan sudah belajar dari kegagalan dalam pilkada sebelumnya. Dalam gelaran pilkada 2020 ini, DPD PDI Perjuangan DIJ menargetkan menjadi pemenang di Sleman, Bantul dan Gunungkidul. Dengan metode baru pemenangan pilkada.

“Evaluasi kami kegagalan itu karena kami tidak kompak, kali ini tidak ada lagi kader kami yang lari di tengah perjalanan,” tegas Ketua DPD PDIP DIJ Nuryadi, usai mengikuti rapat virtual rekomendasi pasangan calon (paslon) kepala daerah dengan DPP PDI Perjuangan, kemarin (17/7).

Dalam Pilkada Sleman, Bantul dan Gunungkidul 2015, serta Pilkada Kota Jogja 2017 lalu paslon yang diusung PDI Perjuangan gagal memenangkan kontestasi.

Nuryadi menjelaskan, menghadapi pilkada 2020 ini, PDI Perjuangan sudah memiliki paslon yang diusung. Untuk Pilkada Sleman, DPP PDI Perjuangan memilih Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa. Sedang di Gunungkidul, paslon Bambang Wisnu Handoyo (BWH)- Benyamin Sudarmadi. Sebelumnya, untuk Pilkada Bantul, PDI Perjuangan mengusung Abdul Halim Muslih-Joko Purnomo.

“Pengalaman pilkada kemarin selalu tidak baik, sekarang kami siapkan metode baru,” tuturnya.

Ketua DPRD DIJ itu menjelaskan, metode baru yang akan dipakai dalam pilkada 2020 ini diklaim sukses dalam Pilkada Jawa Tengah lalu, saat mengusung Ganjar Pranowo 2018 lalu. Begitu pula untuk Pilkada DKI Jakarta 2012, saat Joko Widodo bisa mengalahkan inkumben Fauzi Bowo. Serta mendongkrak perolehan kursi PDI Perjuangan di tingkat DPRD. “Tapi belum bisa kami sebutkan, nanti sama saja bunuh diri,” elaknya saat ditanyakan metode baru tersebut.

Dalam kesempatan itu Nuryadi juga membuka kesempatan bekerjasama dengan parpol lain mendukung paslon yang diusung PDI Perjuangan. Menurut dia, secara ketentuan PDI Perjuangan berhak mengusung paslon sendiri karena perolehan kursi di DPRD di tiga kabupaten tersebut lebih dari 20 persen. “Tapi bukan berarti kami tidak bekerjasama dengan parpol lain mendukung paslon untuk menjadi pemimpin yang baik,” ujarnya.

Tiga paslon yang diusung PDI Perjuangan ini sendiri, kata Nuryadi, sudah melalui serangkaian seleksi. Tapi hasil akhir yang menentukan berada di DPP PDI Perjuangan. Meskipun begitu, para paslon disebutnya sudah membuat kontrak politik dengan PDI Perjuangan, yaitu harus bisa menjawab persoalan masyarakat. “Tidak boleh setelah jadi hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya,” pesan dia.

Sementara itu calon Bupati Gunungkidul yang diusung PDI Perjuangan BWH mengaku, tidak akan banyak berjanji. Tapi menyelesaikan persoalan di masyarakat dengan bekerja. “Ora mbrebegi tapi ngrampungi,” ujarnya. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset DIJ itu juga menyebut, maju dalam kontestasi pilkada melalui PDI Perjuangan merupakan amanah keluarga. BWH tidak mempermasalahkan rekomendasi turun menjadi calon Bupati Gunungkidul, meski sebelumnya pernah mengajukan jadi calon Bupati Bantul. “Saya itu awalnya nglamar jadi ketua DPD (PDI Perjuangan DIJ),” kelakarnya disambut tawa Nuryadi.

Sedang Kustini Sri Purnomo lebih kalem, dengan menyebut setelah turun rekomendasi ini akan berjuang supaya sukses dan menang dalam pilkada nanti. Kustini mengaku, sudah menyiapkan beberapa agenda. “Yang pasti melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Bapak (Sri Purnomo),” kata isteri Bupati Sleman saat ini, Sri Purnomo itu. (pra/ila)