RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X memberikan lampu hijau kepada pengurus pondok pesantren untuk kembali operasional. Tentunya wajib menjalankan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tak hanya oleh para santri tapi juga para pengurusnya.

Pernyataan ini disampaikan usai menemui perwakilan 30 pengurus pesantren di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (16/7). HB X juga berpesan agar tak terburu-buru dalam memulai kegiatan nyantri. Ini karena kesehatan adalah pertimbangan utama sebelum operasional normal.

“Sudah ada 30 pesantren yang sudah membuka pendidikan. Tapi masih ada yang belum karena masih persiapan. Saya bilang ora usah kesusu, mantabkan dulu protokolnya,” jelasnya ditemui di Bangsal Kepatihan, Kamis (16/7).

Dalam kesempatan ini HB X memahami konsep pembelajaran pesantren. Salah satunya adalah kegiatan tatap muka antara santri dengan pengajar khususnya kyai. Dalam dunia pesantren, tentunya ini tak tergantikan.

“Tapi tidak mungkin itu tidak tatap muka. Karena dengan kyai harus tatap muka. Jadi tidak mungkin online semua,” katanya.

HB X memastikan jajarannya telah berkoordinasi. Terutama dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ. Berupa persyaratan untuk membuka kembali pondok pesantren.

Poin terkuat adalah protokol kesehatan Covid-19 jauh lebih penting dalam mendampingi pembelajaran. HB X berpesan agar komitmen terhadap protokol kesehatan haruslah kuat. Pengawasan tak hanya berlaku kepada santri tapi juga tenaga pengajar.

“Saya sampaikan bahwa ketua Gugus Tugas Covid-19 (Paku Alam X) sudah kirim persyaratan untuk dibukanya pondok untuk pelajaran tahun ini dengan ketentuan protokol kesehatan,” ujarnya.

HB X juga meminta pengurus pondok pesantren menggantikan peran orangtua santri. Apabila sakit wajib memberikan pengobatan. Jika perlu dirujuk ke rumah sakit apabila tak kunjung sembuh.

Peran ini, lanjutnya, sangatlah penting ditengah pandemi Covid-19. Para santri tak sepenuhnya bisa mengontrol kesehatan diri. Alhasil tergolong rentan terhadap penularan Covid-19.

“Ponpes bersedia menggantikan seperti orang tuanya sendiri, karena ini kan masih anak-anak jauh dari orangtua. Jadi kalau sakit diberlakukan seperti anak sendiri. Dibawa ke rumah sakit seperti anaknya sendiri,” pesannya. (dwi/tif)