RADAR JOGJA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau terjadi bulan depan. Adapaun puncak kemarau tahun ini lebih basa dibanding tahun sebelumnya.

“Jadi bukan berarti tidak ada hujan sama sekali,” jelas Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menyebut

Oleh karenanya, Reni meminta masyarakat lebih menjaga kesehatan tubuh. Cuaca akan terasa lebih panas dan lebih terik. Ini dapat menyebabkan dehidrasi saat beraktivitas di luar ruangan. “Apalagi dengan kondisi pandemi saat ini, kita harus banyak minum dan konsumsi vitamin,” tuturnya.

Sedangkan petani, diminta bijak dalam menanam tanaman. Disarankan petani menanam palawija. Kecuali pada daerah di mana musim kemarau tetap mendapatkan irigasi, petani tetap dapat menanam padi. Masyarakat yang berada di kawasan pegunungan dan hutan pun diminta waspada. Sebab ilalang dan ranting kering berpotensi menyebabkan kebakaran. “Yang melakukan aktivitas di pegunungan harus menjaga agar tidak menyulut api,” ucapnya.

Kemarau, jelasnya, juga turut mempengaruhi gelombang air laut. Sebab, angin yang beriup dari timur ke arah tenggara secara terus-menerus menyebabkan dorongan pada air laut. Tekanannya dapat mencapai 1.200 milibar dan menyebabkan gelombang setinggi 2 meter. “Imbauan kami kepada nelayan agar berhati-hati,” ucapnya.

Terpisah, Bendahara Kelompok Tani Lestari Mulyo Nawungan Sawabiaya mengungkapkan, sumber air di kampungnya mulai berkurang. Petani mulai merasakan kebutuhan air kurang untuk menyiram lahan. Petani pun mengurangi penanaman bawang merah. Sebab penyiramannya membutuhkan air yang banyak. “Tapi kalau untuk kebutuhan rumah tangga masih cukup,” sebutnya. (cr2/bah)