RADAR JOGJA – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) mengadakan “Kunjungan Belajar Virtual Tujuh Perguruan Tinggi di Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan ke UAJY”. Kegiatan ini bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  yang diadakan Selasa (14/7). Acara ini difasilitasi oleh Ragil dan Randy sebagai Juru Bahasa Isyarat untuk peserta penyandang disabilitas tuli.

Inclusive Education Program Manager Helen Keller International Emilia Kristiyanti menyampaikan, sejak 2003 sampai dengan saat ini HKI dan Kemendikbud mengembangkan sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Pada awal Januari 2016 sampai dengan Desember 2017, HKI, UNICEF dan Direktorat Pembinaan Layanan Khusus (PPLK)-Kemendikbud mengembangkan program pendidikan inklusif guna meningkatkan akses peserta didik berkebutuhan khusus.

Emilia menambahkan, dibutuhkan komitmen semua pihak untuk merealisasikan cita-cita mulia yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 31. Pasal tersebut kemudian ditegaskan melalui pengesahan UU No.8 Tahun 2016 tentang Hak Penyandang Disabilitas.

Perguruan Tinggi (PT) diharapkan mendukung penyandang disabilitas yang menyelesaikan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Salah satunya dengan membuka akses pendidikan dan mempersiapkan lingkungan inklusif yang ramah dan akomodatif bagi mereka.

Selain dibutuhkan akses, para penyandang disabilitas juga membutuhkan tenaga pendidik yang berwawasan inklusif. Juga memiliki kemampuan melakukan layanan pembelajaran yang akomodatif sesuai kebutuhan mahasiswa-mahasiswi yang beragam.

PT juga perlu menyiapkan sarana dan lingkungan yang mendukung penyandang disabilitas sehingga setiap orang di kampus dapat berpartisipasi penuh dalam layanan yang tersedia. Nantinya, penerapan standar layanan inklusif bisa membuat kualitas pendidikan semakin merata dan berkualitas.

Dekan FISIP UAJY FX Bambang Kusumo P, S.Sos, MA mengatakan, tujuan dari kunjungan virtual ini untuk belajar dari pengalaman UAJY dalam menciptakan lingkungan belajar inklusif pada pendidikan tinggi. Juga nantinya untuk mendorong peserta dalam menciptakan program pendidikan inklusif dan disabilitas pada universitas mereka.

”Perlu mengubah mindset mengenai disabilitas, ini menjadi kunci dalam pendidikan inklusif. Kita semua bisa disebut difabel yakni memiliki kebutuhan khusus/berbeda, misalnya saja bila saya lepas kaca mata, saya sudah kesulitan untuk melihat. Maka ketika kebutuhan khusus kita itu difasilitasi, kita sudah dapat setara,” ujarnya. (ila)