RADAR JOGJA – Empat tahun silam, Lasiyo tersengat listrik saat bekerja sebagai buruh bangunan di Jogja. Akibatnya, dia menderita lumpuh total. Serta tangan kirinya diamputasi. Lasiyo hanya bisa terbaring di tempat tidur. Di rumah kakaknya. Bantuan mulai berdatangan. Di antaranya dari Yuni Astuti.

Istri Lasiyo, Sukati tidak bisa menahan tangis haru saat didatangi puluhan pemuda berseragam loreng oranye-hitam, di kediamannya di RT 14 RW 03 Dusun Dawung, Kelurahan Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul Senin (13/7). Keharuan Sukati karena para pemuda anggota Pemuda Pancasila (PP) itu mengantarkan perabotan rumah tangga.

Semuanya baru. Sebagian masih terbungkus plastik dari toko. Ada satu set meja tamu, kursi dan lain-lain. Juga ranjang tidur gres beserta bantal, guling maupun sprei. Rumah yang selama ini ditempatinya, bersama dua puteranya, untuk merawat Lasiyo itu terlihat penuh perabotan.

Dengan arahan Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BPPP) DIJ Yuni Astuti, perabot rumah tangga itu ditata rapi. Berulang kali perempuan berkerudung itu mengucap terima kasih kepada Yuni. “Matur nuwun bu,” ucapnya berlinang air mata.

Mereka juga mengganti tempat tidur yang selama ini dipakai Lasiyo. Tempat tidur nyaris lapuk ditindih kasur usang berlapis galar itu dikeluarkan dari kamar ukuran 2,5 x 3 meter. Lasiyo terlihat lebih nyaman berbaring di atas ranjang barunya. Berwarna merah.

Tak hanya membawa bantuan peralatan rumah tangga Yuni juga memberikan bantuan uang. Yuni yang sempat viral lewat aksi sosial bagi-bagi uang di jalan itu mencoba membesarkan hati Sukati supaya tetap sabar dan tawakal menerima cobaan. “Semangat ya. Lebih sabar ya merawat Bapak. Pahalanya kan juga untuk njenengan. InsyaAllah,” ucap Yuni, yang juga tampak terharu.

Melihat kondisi Lasiyo, Yuni tidak mampu membendung air matanya. Istri dari Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) PP DIJ Faried Jayen Soepardjan itu sempat keluar rumah sebentar. Untuk mengusap air mata. Juga menata perasaannya.

Kepada Yuni dan Jayen, Sukati menyampaikan, suaminya hingga kini masih menjalani perawatan akibat tersengat listrik saat bekerja sebagai buruh bangunan di Jogja, empat tahun silam.
Kejadiannya waktu itu, pria yang kini berusia 45 tahun itu, tangan kirinya memegang besi. Nasib berkata lain, besi itu nyangkut kabel listrik tegangan tinggi. Tubuhnya lengket beberapa lama. “Dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih 18 hari. Dua minggu di rumah, kemudian dirawat lagi satu minggu di sana,” kata Sukati. Matanya terlihat sembab seperti ikut merasakan derita yang dialami suaminya.

Selain kontrol rutin ke RS Panti Rapih maupun RS Bhayangkara, setiap dua hari sekali ada perawat datang di rumah. Suaminya kadang-kadang masih merasakan pusing. Kakinya ngilu. “Iya, cuma di tempat tidur. Bisa duduk tapi nggak kuat lama,” ujarnya sambil mengusap air mata dengan mukenanya.

Bersama dua puteranya, Sukati dengan sabar merawat suaminya di rumah yang terletak di lereng bukit. “Ini bukan rumah saya. Punya kakak. Numpang. Rumah saya di bawah sana sudah nggak ada lagi. Cuma lantainya,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak athu bagaimana ceritanya hingga rumahnya ambruk. Tinggal tersisa lantai dan puing-puing.

Mendengar penuturan Sukati, Yuni menyebut, jika saja kondisinya memungkinkan, dia tidak keberatan mengajak pihak-pihak lain untuk membangun kembali rumah Lasiyo.“Syukur kalau punya rezeki saya beli materialnya, nanti teman-teman (Pemuda Pancasila) yang membangun,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Yuni kembali menegaskan, aksi sosial kali ini murni kegiatan kemanusiaan. Sama sekali tidak bermuatan politis. Aksi sosialnya sudah dilakukan saat awal pandemi korona, selama Ramadan dan terus berlangsung hingga kini.

Faried Jayen menambahkan, para Pemuda Pancasila harus punya hati namun tidak boleh gembeng. Mereka juga harus bersedia membantu masyarakat berdasarkan kemampuan masing-masing. “Semampunya kami bantu masyarakat karena kita ada di masyarakat. Gedangsari ini hanya salah satu contoh bentuk kepedulian Pemuda Pancasila kepada sesama,” tegas Jayen. (*/bah)