RADAR JOGJA – Aktivitas penerbangan di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo mengalami peningkatan seiring berlakunya kebijakan pelonggaran akses transportasi. Untuk mencegah penularan Covid-19, pemeriksaan penumpang akan terus dilakukan secara ketat.

General Manager PT Angkasa Pura 1 Agus Pandu Purnama menjelaskan, ribuan penumpang terpantau keluar masuk DIJ tiap harinya melalui YIA. Peningkatan jumlah penumpang juga berdampak pada makin tingginya lalu lintas udara. ”Tiap hari hampir ada 30 pergerakan. Kemarin sempat 40 pergerakan di bandara,” kata Pandu di Kompleks Kepatihan Senin (13/6).

Aktivitas penerbangan di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo ( RADAR JOGJA FILE )

Lonjakan penumpang paling tinggi tercatat sekitar 4.000 orang per hari. Jumlah tersebut biasa tercapai saat weekend. Adapun jumlah penumpang rata-rata adalah 3000-an orang per hari.

Aktivitas penerbangan juga meningkat. Saat weekend bisa mencapai 40 penerbangan. Pada hari biasa terdapat sekitar 32 sampai 36 penerbangan. Hampir seluruh maskapai telah melaksanakan penerbangan dengan rute tertentu.

Terkait rute intenasional, hingga saat ini belum beroperasi walaupun YIA sudah menerima penerbangan internasional. Sebab, pihaknya masih menunggu maskapai yang siap melakukan penerbangan itu.  ” Pada 8 Juli sudah menerima penerbangan internasional dari Kuala Lumpur. Dan ini bertahap akan kami buka untuk internasional,” jelasnya.

Dia melanjutkan, pengawasan terhadap pelaksanaan protap kesehatan tidak akan surut. Seluruh penumpang akan menjalani pemeriksaan petugas. Misalnya adalah pengawasan persyaratan dan dokumen yang harus dibawa penumpang. “Karena Kantor Kesehatan dan Pelabuhan (KKP) akan melihat seluruh dokumen, baik hasil lab maupun catatan RS yang jadi rujukan,” terangnya.

Wakil Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Biwara Yuswantana mengatakan, tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bidang Penegakan Hukum juga turut serta dalam upaya pengawasan protap kesehatan di bandara. “Termasuk memeriksa potensi terjadi penumpang yang datanya tidak sinkron. Misalnya PCR atau rapid test yang hasilnya sudah kardaluwarsa perlu ada penanganan di sana,” tutupnya. (tor/bah)