RADAR JOGJA – Ratusan pengunjung Pantai Parangtritis tersengat ubur-ubur saat berenang di bibir pantai Minggu (12/7). Ubur-ubur yang memiliki nama latin Physalia physalis itu menyengat  kulit hingga terasa terbakar. Satu dari sejumlah korban mengalami sesak napas hingga dilarikan ke klinik terdekat.

“Hingga siang ini ada sekitar 110 orang yang tersengat,” ungkap Koordinator Search And Rescue (SAR) wilayah V Parangtritis Ali Sutanto Minggu (12/7). Satu korban yang mengalami sesak napas sudah tertangani dan telah dikembalikan ke rombongan wisata.

KESAKITAN:  Pengunjung Pantai Parangtritis tersengat ubur-ubur, (12/7). Mereka dibawa ke pos SAR guna dilakukan pengobatan. ( SAR PARANGTRITIS FOR RADAR JOGJA )

Meski di tengah pandemi Covid-19, antusias berwisata mulai meningkat. Bahkan tak sedikit kunjungan berpelat nomor luar daerah. Ali mengatakan, mayoritas korban tersengat pada pukul 12.00 siang. Seketika air laut dalam keadaan pasang. Begitu ada ombak besar, dibarengi angin tertiup kencang dari selatan, membawa ubur-ubur ke tepian.

“Nah kena yang sedang mandi. Korbannya anak-anak hingga orang dewasa,” ucap Ali.  Dikatakan, sejak dia bertugas pada pagi hari, belum ada temuan pengunjung  tersengat ubur-ubur. Sehari sebelumnya juga dikatakan nihil korban.

Untuk penanganan dan penjagaan khusus Sabtu dan Minggu dikerahkan 60 personel terdiri atas SAR dan Ditpolairud. Beragam imbauan dan teguran telah disampaikan. Agar pengunjung tak mandi di laut karena musim ubur-ubur.

Kendati begitu, banyak pengunjung tak mengindahkan imbauan tersebut. Semakin siang justru semakin ramai orang mandi di laut. Tak pelak pasokan obat-obatan penyembuhan korban pun ludes. “Musim-musim seperti ini kami sering kehabisan stok obat-obatan. Jika kunjungan banyak, yang kena juga semakin banyak,” ucapnya.

Dia mengimbau kepada pengunjung agar tak bandel dan menghindari mandi di laut, selama ubur-ubur masih bermuncul di bulan Juni-Juli. Dia juga berharap Pemkab Bantul dapat membantu menyuplai kebutuhan obat-obatan seperti salep, minyak dan lainnya guna penyembuhan.

Sebelumnya objek wisata pantai dibuka, pemkab berjanji akan menyediakan posko kesehatan di area pantai. Selain dimanfaatkan antisipasi kegawatdaruratan penanganan Covid-19, posko dapat digunakan untuk pelayanan lainnya. Koordinasinya melibatkan Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul.

Menanggapi hal ini, Kepala Dispar Bantul Kwintarto Heru Prabowo menegaskan, sesuai paparan itu pihaknya mulai melaksanakan. Ia juga sudah menerima surat dari Polairud dan sudah mendapatkan surat tembusan. “Ada bantuan petugas layanan medis. Kita berharap posko kesehatan di Parangtritis oleh Dinkes segera direalisasikan,” ujarnya. (mel/laz)