RADAR JOGJA – Rencana pembangunan apartemen di wilayah Dusun Candi Karang, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman mendapat penolakan warga sekitar. Masyarakat khawatir, pembangunan apartemen tersebut dapat merusak sumber air yang biasa digunakan warga untuk bercocok tanam serta budidaya ikan.

Juru Bicara Paguyuban Warga Candi Karang Sujati mengatakan, selama sebulan terakhir ini pihaknya telah melakukan upaya penolakan. Alasannya, karena pembangunan apartemen dikhawatirkan dapat merusak 10 sumber mata air atau tuk Padas Gempal Panguripan Candi Karang yang berada di Kali Klanduan yang ada di dusun tersebut.

JAGA ALAM:  Sasana kegiatan penolakan apartemen oleh warga Dusun Candi Karang, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik ( IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA )

Sumber mata air tersebut, lanjut Sujati, selama ini sudah berfungsi mengairi 350 hektare sawah bagi petani di wilayah Sardonoharjo, Sinduharjo, hingga Ngemplak. Selain itu sebagian warga juga memanfaatkan air dari tuk untuk budidaya berbagai jenis ikan. “Sumber air utamanya untuk pertanian, sementara sebagian kecil untuk perikanan. Kami khawatir kalau pembangunan apartemen di wilayah ini bisa merusak sumber air tersebut,” ujar Sujati Minggu (12/7).

Sujati mengatakan, upaya penolakan juga dia lakukan dengan mengandeng dukungan bersama karang taruna serta kelompok tani di wilayah sekitar dusun. Sebanyak delapan kelompok tani yang menggantungkan pengairan lahan mendatangai surat perjanjian untuk menjaga kelestarian dan meminta agar tuk Padas Gempal Panguripan Candi Karang menjadi daerah konservasi air.

Sementara karang taruna yang merupakan gabungan pemuda dari Dusun Candi Karang, Candi Sari dan Candi Mendiro menggelar aksi bersih-bersih sungai. Itu, sebagai wujud kepedulian pemuda terhadap lingkungan serta menyatukan solidaritas.

Sujati menambahkan, penolakan pembangunan apartemen juga didasari pada kekhawatiran warga terhadap sepinya usaha kost-kostan milik masyarakat Candi Karang. Warga khawatir, para penyewa kost akan beralih ke apartemen.”Kalau apartemen berdiri akan menyedot kos-kosan tradisional yang kecil-kecil milik warga. Sebab, tren mahasiswa lebih memilih tempat yang bebas,” tuturnya.

Sementara Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Sardonoharjo Suroto berharap, agar kalangan pemuda-pemudi bisa turut mendukung penolakan apartemen. Sebab, sumber mata air harus terus dijaga kelestariannya. “Harapannya para pemuda mendukung, karena kami ingin ninggali anak cucu supaya mendapat terus mendapat air,” ujar Suroto. (inu/pra)