RADAR JOGJA – PT Taman Wisata Candi terus mengevaluasi tahap uji coba operasional Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Terutama dalam penerapan batasan kapasitas pengunjung harian. Diketahui untuk tahap uji coba, jumlah wisatawan dibatasi hanya 1.500 orang.

Direktur Utama PT TWC Edy Setijono mengklaim uji coba berlangsung lancar. Saat akhir pekan, jumlah calon pengunjung telah melebihi kapasitas. Hanya saja jumlah wisatawan yang masuk tetap dibatasi maksimal.1.500 orang.

“Seperti (hari) Minggu ternyata pengunjung animonya bagus tapi karena sekitar jam 2 siang sudah terpenuhi kuota maka kami tutup. Otomatis tak ada penjualan tiket lagi. Kami ketat agar protokol bisa kami jalankan. Pengunjung yang di dalam bisa stay hingga jam 4 sore,” jelasnya, ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (13/7).

Untuk Candi Borobudur, setidaknya memiliki kapasitas maksimal 11 ribu pengunjung. Berlakunya protokol turut mengurangi kuota wisatawan. Tujuannya untuk menerapkan physical distancing antar pengunjung.

“Sejak 25 Juni, Candi Borobudur sudah uji coba operasional. Menyusul Candi Prambanan tanggal 1 Juli. Tapi tahapannya uji coba semua. Ada pembatasan kuota masing-masing 1.500 pengunjung perhari,” katanya.

Terkait kapasitas, sejatinya kedua candi memiliki kuota besar. Sementara berdasarkan protokol, batas kunjungan maksimal dalam masa adaptasi baru mencapai kisaran 5.500 wisatawan.

Kuota yang terpenuhi saat ini adalah 1.500 wisatawan. Angka ini masih kurang dari 10 persen kapasitas. Namun pembatasan ini dilakukan sebagai upaya uji coba operasional adaptasi baru.

“Uji coba ini kami sangat hati-hati, sehingga memang dibuka 10-15 persen kapasitas total. Tapi kedepan kami buka secara bertahap. Kuota akan terus kami tambah hingga batas maksimal 50 persen,” ujarnya.

Evaluasi terhadap uji coba dalam rentang waktu dua Minggu. Apabila optimal maka kuota wisatawan akan terus ditambah. Rencananya penambahan 3.000 pengunjung akan dilakukan pertengahan bulan Juli.

Edy memastikan penambahan kuota tersebut tetap melalui konsultasi. Pihaknya tak ingin gegabah dalam menentukan kebijakan. Tujuannya agar tak ada penambahan kasus bahkan klaster baru dari dunia wisata.

“Protokol kesehatan yang kami siapkan itu awalnya untuk kapasitas 50 persen pengunjung. Bertahap dinaikan 3.000 pengunjung hingga akhir Kuli. Kalau kondisi kondusif maka naikan lagi hingga angka normal ke 5.000,” katanya. (dwi/tif)