RADAR JOGJA – Jogjakarta memiliki sejumlah atribut untuk menggelar Piala Dunia U-20. Stadion berkelas, lapangan latihan representatif, hotel berbintang dan akses transportasi yang cukup mudah setidaknya menjadi modal kelayakan Jogjakarta menjadi tuan rumah pada ajang paling bergengsi sepakbola di kelas junior tersebut.

Coba bandingkan dengan Stadion Kapten I Wayan Dipta yang ada di Bali. Jarak stadion dengan Kota Denpasar, Bali lebih dari 25 kilometer. Belum lagi akses transportasi umum menuju stadion cukup sulit didapat. Dan di bali pun memiliki Gunung Agung yang juga tergolong gunung api aktif.

Pencoretan Stadion Mandala Krida hingga kini menuai polemik. PSSI melalui Ketua Umum, Mochamad Iriawan menyatakan stadion yang menjadi markas PSIM Jogja tersebut dicoret lantaran berbagai alasan. Salah satunya karena keberadaan Gunung Merapi. Mandala Krida digantikan Stadion Jalak Harupat yang ada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Jarak Mandala Krida dengan gunung tersebut dinilai terlalu riskan menghelat ajang internasional berkelas dunia. Apalagi, salah satu gunung api paling aktif tersebut belakangan tengah mengalami aktivitas yang cukup tinggi.

Nasib tak jauh berbeda dialami oleh Stadion Pakansari, Bogor, Kandang Persikabo Bogor. Posisi Pakansari tergeser oleh Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan.

Kendati demikian, sampai saat ini masih belum ada surat keputusan resmi dari FIFA. Apakah federasi sepak bola dunia itu setuju dengan keputusan pencoretan Mandala Krida atau tidak. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Provinsi DIJ, Wahyudi Kurniawan.

Wahyudi mengungkapkan justru sejak awal, FIFA tertarik dengan DIJ. Selain berstatus sebagai wilayah pariwisata yang biasa di datangi turis asing, DIJ juga menjadi tempat dilahirkannya PSSI.  “Sebagai tempat berdirinya PSSI, FIFA sangat menghargai itu,” katanya.

Saat ini Piala Dunia U-20 sudah diambil alih oleh pemerintah pusat. Ajang yang rencananya berlangsung Mei tahun depan itu akan didanai penuh oleh pemerintah pusat. Kondisi tersebut membuat Asosiasi Provinsi DIJ hanya bisa memberikan dukungan saja kepada pemerintah provinsi untuk memperjuangkan status tuan rumah. “Sekarang ranahnya sudah di tangan pemerintah, kami memberikan dukungan saja kepada Pemprov,” tandasnya.

Stadion Mandala Krida memang baru selesai direnovasi pada 2019 lalu. Namun, renovasi itu belum mencakup keseluruhan. Kursi penonton, lampu, papan skor elektronik masih belum tersedia di Mandala Krida. Padahal, itu syarat mutlak untuk sebuah stadion agar bisa menyelenggarakan pertandingan level internasional.

Angin segar berhembus pada awal tahun lalu. Itu setelah FIFA mengumumkan Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ pun bergerak. Ketika itu anggara sebesar Rp60 miliar sudah disiapkan.

Dalam perkembangannya, dana sebesar Rp 60 miliar tersebut harus dialihkan, akibat pandemi Covid-19.

Kendati demikian, pemerintah mengeluarkan kebijakan, dimana pendanaan termasuk renovasi stadion untuk Piala Dunia U-20 akan diambil alih oleh pemerintah pusat.

Kepala Balai Pemuda dan Olahraga DIJ, Eka Heru Prasetya menyatakan kala itu dana tesebut akan dipergunakan untuk memperbaiki segala kekurangan Mandala Krida. Termasuk permintaan khusus FIFA mengenai harus adanya empat ruang ganti. “Sekarang ini masih 60 persen,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (12/7).

Kendati demikian, Eka Heru menjelaskan dana sebesar Rp 60 miliar rupiah itu sejatinya masih kurang jika harus menyempurnakan Mandala Krida. Pihaknya menjelaskan paling tidak dibutuhkan dana sebesar 80 miliar rupiah. Pemerintah pusat sendiri berencana untuk menggelontorkan dana sebesar Rp 600 miliar untuk Piala Dunia U-20. Dana sebesar itu akan digunakan untuk perbaikan stadion dan juga saat perhelatan dua tahunan itu dimulai.

Eka Heru Prasetya menyatakan jika memang dananya ada, pihaknya memastikan bisa mengebut proses perbaikan Stadion Mandala Krida “Ya kami sebagai pengelola siap saja,” tegasnya. (kur/bah)