PANDEMI Covid-19 belum menandakan akan melandai di Indonesia. Beberapa wilayah setiap hari makin bertambah kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Di sisi lain, ekonomi harus di selamatkan. Awal Juni lalu Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengumumkan rencana pembukaan 9 sektor bisnis ‘penyelamat’ ekonomi Indonesia di era kenormalan baru (New Normal). Adapun, 9 sektor tersebut antara lain pertambangan, perminyakan, industri, konstruksi, perkebunan, pertanian dan peternakan, perikanan, logistik dan transportasi barang.

Keselamatan adalah yang utama. Inilah prinsip bekerja dalam konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang harus diterapkan kala new normal digulirkan. Kasus klaster baru covid-19 di 3 Perusahaan di Semarang yang diumumkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (6/7/2020) patut menjadi warning keras bagi dunia usaha. Jangan sampai kasus tersebut terjadi di kota lain seiring dengan pembukaan duania usaha.

Para Ahli K3 di Perusahaan harus ekstra hati-hati mengontrol bahaya biologi yakni penularan Covid-19 di tempat kerja. Penerapan K3 di tempat kerja adalah pelaksanaan dari UU No. 1 Tahu 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Pasal 13 UU No. 1 Tahun 1970 tersebut menyatakan kewajiban bila memasuki tempat kerja yakni, Barangsiapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan. ISO 45001:2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga mensyaratkan pengendalian risiko di tempat kerja yang diwajibkan di klausul 6.1.2 Hazard identification and assessment of risks and opportunities.

Hierarki kontrol bahaya covid-19 di dunia kerja. Dalam dunia K3 Global sudah jamak menggunakan 5 Hierarki Pengendalian Risiko dalam mencegah kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Pengendalian risiko dimulai dari yang pertama, Eliminasi, menghilangkan faktor bahaya. Jelas pengendalian ini tidak mungkin diterapkan, karena mustahil menghilangkan Virus Corona sebagai bahaya biologi. Kedua adalah Substitusi, penggantian bahan, alat atau cara kerja dengan alternatif lain dengan tingkat bahaya yang lebih rendah sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya dampak yang serius.

Cara ini juga sulit diterapkan karena alat yang digunakan sangat spesifik. Langkah ketiga yakni Rekayasa Engiinering yakni pengendalian dengan cara rekayasa desain alat dan/atau tempat kerja. Langkah ketiga inilah yang mulai bisa diterapkan di dunia kerja.

Ahli K3 harus mampu mendesian tempat kerja agar mampu menurunkan risiko penularan Covid 19, misalnya penataan kembali lay out tempat kerja, diberi jarak minimal 1 m. Menambah kaca/barrier pada semua unit kerja yang berinteraksi dengan customer, misal kasir, humas, Penerima tamu dll, penataan ruang tunggu, penataan penggunaan lift, penataan tempat rapat dan parkir.

Pengendalian keempat adalah administrasi, misal dengan membuat protocol covid di tempat kerja, mensosialisakan protocol kesehatan, membuat SOP baru yang sesuai dengan new normal, pemeriksaan kesehatan berkala pekerja, penyiapan klinik perusahaan dan membuat jadwal kerja dan shift kerja baru (WFH dan WFO). Langkah terakhir yang paling tidak efektif adalah Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), langkah terakhir ini misalnya dengan mewajibkan pekerja menggunakan Masker dimanapun berada, pemakaian Face Shield dan sarung tangan di beberapa unit kerja yang melayani costumer eksternal.

Emergency Respon Plan (ERP) harus dipunyai dunia usaha dan menjadi panduan di tempat kerja. ERP khususnya tentang wabah di tempat kerja dalam menjawab tantangan di new normal wajib di aplikasikan. Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan di tempat kerja jika terjadi temua kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Bagaimana sinkronisasi rencana jika terjadi kondisi emergency atay kedaruratan dengan rencana kontigensi yang ada di BPBD Kab/Kota atau Provinsi. Tempat kerja juga dimintauntuk melakukan upaya preventif misalnya mengidentifikasi sumber daya yang dimilikimisal Sumber Daya Manusia yang dimiliki, jumlah petugas kesehatan, jumlah Petugas P3K, dan sumber daya lainnya misalnya kondisi Ambulans perusahaan, ketersediaan klinik atau MOU dengan Klinik diluar perusahaan dan penyiapan keberlangsungan bisnis perusahaan. Hal yang paling penting juga adalah pelaksanaan Simulasi atau Drill Rencana Kontigensi penanganan Covid-19 di tempat kerja. Siapa berperan menjadi apa saat terjadi kedaruratan.

Kesiapan di tempat kerja menjadi sebuah keharusan agar tempat kerja tidak berubah menjadi klaster baru penularan Covid-19. Potensi tempat kerja menjadi klaster sangat besar karena di sana ada banyak pekerja yang berinteraksi di tempat kerja. Jika interaksi antar pekerja tidak diatur maka memungkinkan transmisi lokal terjadi. Tempat kerja harus menjadi safe place dan pekerja harus mampu menjadi safe persons di era new normal ini. (ila)

*Penulis merupakan Praktisi Kesehatan Masyarakat, Trainer K3, Ketua K3 RS Jiwa Grhasia DIJ dan Ketua Bidang PAKKI (Perhimpunan Ahli Kesehatan Kerja Indonesia) Pengda DIJ.