RADAR JOGJA – Kerusakan ekosistem bumi menyadarkan manusia akan pentingnya peran komunikasi lingkungan dalam menjaga, melindungi, dan mengelola kelestarian lingkungan. Peristiwa sehari-hari seperti polusi udara, pencemaran limbah plastik, kerusakan terumbu karang, kebakaran hutan, hingga pandemi Covid-19, memerlukan komunikasi lingkungan yang partisipatif. Dibutuhkan dalam menyusun perencanaan yang strategis untuk menghasilkan kebijakan yang efektif.

Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi dan Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) Puji Lestari dalam webinar bertajuk ‘Strategi dan Penerapan Komunikasi Lingkungan dari Perspektif Pembangunan’, Kamis (9/7). Webinar ini bekerja sama dengan¬†Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh,

Menurut Puji, komunikasi lingkungan harus melibatkan partisipasi masyarakat dalam memproduksi, menyalurkan, dan mengimplementasikan pesan melalui berbagai media. Dengan orientasi penyelamatan lingkungan dan pengurangan risiko bencana.

Sebagai dosen komunikasi, dia membimbing berbagai kelompok mahasiswa yang mengambil mata kuliah Marketing Public Relations (MPR) untuk peduli lingkungan melalui program Breksinergi pada 2016 lalu. Fokus kebijakan pelestarian lingkungan di Tebing Breksi dikemas dengan metode Design Thinking untuk mengoptimalkan potensi Taman Wisata Tebing Breksi. Bekerjasama dengan Dinpar DIJ,  Lintas Komunitas Istimewa Peduli Pariwisata, dan warga Sambirejo.

“Salah satu kegiatan Breksinergi adalah Greeneraksi yakni penanaman 300 pohon yang akan manjadi Taman Lintas Komunitas pertama di Indonesia. Donasi dari 47 Komunitas dan masyarakat peduli pariwisata ini, berhasil mengubah lahan yang tadinya gersang dan tandus, berubah menjadi sejuk dan nyaman,” jelas Dewan Pakar Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) ini.

Menurut Tri Dharma Pendidikan, lanjut Puji, kegiatan pembelajaran mahasiswa harus dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Hal ini mendorong akademisi membuat program perkuliahan yang mengandung aspek kepedulian lingkungan. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas namun juga membuat even peduli lingkungan yang bekerjasama dengan pemerintah, dan melibatkan masyarakat.

“Harapannya bisa lahir sivitas akademika ilmu komunikasi dan humas yang memiliki tanggung jawab sosial, kepekaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar,” ujar Puji dalam keterangan tertulis, Minggu (2/7).

Selain itu Puji juga mencontohkan kampanye gerakan mahasiswa #WEGAHKRESEK dan program peduli lingkungan bertajuk Mayung Jagad (Memayu Hayuning Jagad). Kegiatan yang dia inisiasi ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai sekolah dan kampus, yang mengajak ratusan pengunjung di kawasan Pantai Parangtritis, Bantul, untuk bersama-sama memungut sampah plastik yang bertebaran.

“Melalui aksi sederhana seperti ini harapannya masyarakat bisa mengingat dan meresapi dengan lebih mudah keresahan akibat sampah plastik yang semakin menumpuk. Saya yakin bisa membawa perubahan yang besar untuk mengurangi penggunaan sampah plastik dan menumbuhkan perilaku nyata membuang sampah pada tempatnya,” tutur Puji. (sky/tif)