RADAR JOGJA – Belakangan publik dibuat heboh dengan munculnya nama-nama unik dalam dokumen e-KTP warga Gunungkidul. Untuk meminimalisasi dampak negatif, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Gunungkidul meminta masyarakat bijak dalam menyikapi identitas seseorang.

Informasi yang dihimpun Radar Jogja muncul beberapa nama nyentrik dan terdengar asing jika diucapkan. Misalnya, Devi Ditaleni Ravia (dalam bahasa Jawa artinya: Devi diikat dengan tali rafia, Red). Ketika dimintai tanggapan, siswi kelas 12 SMK I Saptosari itu tidak menyangka namanya mendadak viral di media sosial (medsos).”Kalau kata orang tua (pemberian nama) biar unik. Terus, gampang diingat orang,’’ kata Devi.

Diakui memiliki nama unik memang ada konsekuensinya. Teman di sekolah memanggilnya ‘ditaleni’ dalam bahasa Jawa artinya diikat. Kendati demikian warga Widoro, Kanigoro, Saptosari tersebut tidak mempermasalahkan.

Sementara Emy, 39, ibunda dari Dita mengungkapkan, nama Dita dirancang sejak awal. Sedangkan tambahan Leni Ravia muncul karena spontanitas dirinya dan suami yakni Suro,45.

“Iya dulu itu kalau anak pertama perempuan mau saya kasih nama Dita, gitu. Tapi nama panjangnya masih mikir-mikir. Terus punya inspirasi itu saya dan bapaknya apa ya, Dita..Dita, ditaleni apa? Terus biar unik saja saya kasih nama Dita Leni Ravia itu,” kata Emy.

Setelah Dita Leni Ravia, baru-baru ini muncul nama lain. Misalnya, Ramaido Satria Yoga. Dalam bahasa jawa ‘ramaido’ artinya tidak masalah. Kemudian nama mirip merk minuman ‘Vodka Nur Vebriyanto, Pintaku Tiada Dusta dan nama unik lainnya. Meski demikian hanya Dita Leni Ravia yang terkonfirmasi kebenarannya. “Nama itu hak setiap orang ya, kami hanya bagian entri data,” kata Kepala Disdukcapil Kabupaten Gunungkidul Markus Tri Munarja.

Pihaknya juga enggan lebih jauh membedah nama-nama unik tersebut. Kata Markus, terkait data pribadi penduduk disdukcapil terikat UU. Menurutnya nama juga termasuk elemen data pribadi. “Itu hak pribadi kalau mau di publis,” ucapnya.

Dia memahami saat sekarang era digital. Masing-masing cerdas dalam mencari informasi atau berita menarik. Salah satunya menggali identitas yang terdengar aneh atau tidak lazim. “Maklum sekarang YouTuber sebagai alternatif mencari info menarik,” terangnya.

Terlepas dari itu pihaknya meminta kepada masyarakat luas agar bijak dalam bermedia sosial. Dia khawatir di antara yang punya nama unik justru dirugikan secara psikologis. “Mari kita bijak dalam menyikapi setiap dokumen kependudukan, termasuk nama orang,” pintanya. (gun/din)