KENORMALAN BARU atau new normal, merupakan tatanan kehidupan baru di tengah kemelut pandemi. Bak lentera dengan nyala api yang membara, ketika malam memeluk manusia dengan begitu eratnya. Setelahnya, mengobarkan semangat kepada mereka yang tadinya penuh kelesuan. Menjadi salah satu ramuan terbaik bagi manusia, untuk bagaimana tetap bisa menjalani kehidupan yang produktif, sembari mematuhi protokol kesehatan.

Alhasil, terbentuk suatu budaya baru di dalam tubuh masyarakat. Pekerjaan, menghubungi teman, berbelanja kebutuhan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang harus dikerjakan di luar rumah turut mengalami revolusi. Sekarang, aktivitas-aktivitas tersebut dapat dikerjakan secara remote dari rumah selama 24/7. Tentunya ketika bekerja atau belajar di rumah, masyarakat menggunakan laptop, menyalakan lampu sepanjang hari, mengecas gawai terus-terusan dst.

Di sisi lain, terbukanya beberapa pasar tradisional pada era new normal, juga belum tentu menjamin akan berkurangnya pemakaian listrik. Mengingat keharusan mematuhi protokol kesehatan, masyarakat kemungkinan hanya berada di pasar dalam waktu sebentar. Kemudian sesampainya di rumah, memasak bahan-bahan dengan menggunakan peralatan dapur yang membutuhkan energi listrik seperti kompor listrik, oven, blender, dst. Atau menyalakan lampu selama memasak di rumah. Otomatis listrik rumah tangga tetap naik.

Imbasnya, sebagaimana menurut Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Bob Saril, konsumsi listrik rumah tangga selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) naik hingga 13% – 17%. Jika persentase ini dilakikan dengan konsumsi listrik pada tahun 2019, yakni 1.084 kWh per kapita, maka nilainya akan berada pada rentang 1.225 – 1.269 kWh. Padahal pada tahun 2020, konsumsi listrik hanya ditargetkan mencapai 1.142 kWh per kapita.

Menurut Senior Executive Vice President Bisnis & Pelanggan PLN Yuddy Setyo, tingginya tagihan listrik disebabkan oleh adanya kebijakan Work from Home (WFH) selama PSBB. Sebab kata Yuddy, kebijakan ini membuat konsumsi listrik lebih tinggi dari biasanya, lantaran banyaknya anggota keluarga berada di rumah. Apalagi konsumsi listrik semakin boros ketika bulan Ramadhan, karena sebagian pelanggan bangun lebih awal untuk memulai aktivitas

Tentu saja tingginya konsumsi listrik tersebut mengakibatkan pembengkakan tagihan listrik. Hal ini turut dibenarkan oleh Yuddy, yang menyatakan bahwa tagihan listrik 4,3 juta pelanggan melonjak lebih dari 20%, serta 258 ribu pelanggan melebihi 200% dari tagihan normal.

Tidak hanya itu, besarnya tagihan listrik pada bulan April dan Mei, juga disebabkan oleh pencatatan listrik berdasarkan rata-rata 3 bulan sebelumnya atau sebelum WFH. Sebab pada bulan April, baru 47% petugas PLN yang melakukan pencatatan meteran listrik untuk tagihan bulan Mei, lantaran masih berlangsungnya kebijakan PSBB. Alhasil, rekening listrik Juni 2020 mengalami lonjakan tagihan lebih dari 20% daripada dua bulan sebelumnya.

Maka langkah terbaik yang bisa dilakukan bersama adalah melakukan penghematan listrik. Cara sederhana yang dapat diterapkan adalah menggunakan lampu rumah tangga sehemat mungkin. Lampu di dalam rumah cukup dinyalakan di antara jam 17.00 – 22.00. Sedangkan untuk waktu yang tersisa, lampu dimatikan saja. Menurut beberapa penelitian, energi listrik dalam bangunan, paling banyak disebabkan oleh penghidupan lampu yang terlalu lama.

Alat-alat elektronik lainnya jangan lupa turut diperhitungkan penghematan dalam pemakaiannya. Seperti rice cooker, yang dinyalakan hanya ketika menanak nasi saja. Setelah nasi matang, kabel dapat dilepas dari colokan. Adapun untuk gawai, setelah selesai dicas kabel charger dikeluarkan dari colokan. Hingga perangkat elektronik lainnya yang bisa dipakai seefisien mungkin.

Selain itu, masyarakat dan PLN bisa saling bahu-membahu dalam melakukan pencatatan pemakaian listrik yang berbasis okupansi, terintegrasi dan real-time. Studi yang dilakukan oleh The Battle Group and Energy Impact Partners (EIP) mengenai konsep FixedBill+ mungkin bisa menjadi rujukan pencatatan listrik kita bersama.

FixedBill+ menawarkan metode pencatatan yang memberikan keuntungan efisiensi energi dan berdasarkan permintaan pelanggan. Sehingga ekosisten konsep ini sangat fleksibel dan hemat biaya. Tentu metode pencatatan ini cocok dengan era new normal, dimana pemakaian listrik sangat tidak menentu. (ila)

*Penulis adalah Mahasiswa Teknik Fisika UGM. Menjabat sebagai Sekretaris Umum Korps-HMI (KOHATI) cabang Bulaksumur 2020.