RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta melaporkan kondisi terkini Gunung Merapi yang mengalami deformasi atau penggembungan tubuh gunung. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas magma naik ke puncak.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan, sejak 26 Juni hingga 2 Juli lalu ada perubahan yang ditandai pemendekan jarak tunjam sebesar kurang lebih dua sentimeter.

“Pemendekan jarak tunjam ini terlihat dari metode EDM. Bisa dibayangkan di lereng Merapi dipasang cermin, lalu jarak cermin ke alat EDM diukur setiap hari. Saat gunung mengalami inflasi (menggembung), maka jarak antara cermin dan alat akan memendek,” jelasnya secara tertulis, Kamis (9/7.

Kendati demikian, deformasi dengan jarak dua sentimeter terhitung masih kecil dibandingkan dengan fase sebelum erupsi Merapi tahun 2010 lalu. Deformasi atau perubahan bentuk, lanjut Hanik, bisa berarti inflasi atau deflasi merupakan hal yang biasa bagi gunung berapi. Dia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik. Rekomendasi jarak bahaya masih dalam radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.

“Tidak perlu panik, naiknya magma ke permukaan merupakan hal biasa. Potensi ancaman bahaya masih sama, berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan lontaran material akibat erupsi eksplosif,” tandasnya. (sky/tif)