RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) menanggapi keluhan warga lereng Merapi terkait rusaknya sebagian jalur evakuasi. Dia menegaskan jalur evakuasi kawasan Merapi tak boleh rusak demi kelancaran proses evakuasi dan keselamatan warga.

Pertimbangan utamanya adalah aktivitas Gunung Merapi. Berdasarkan data BPPTKG Jogjakarta, Gunung Merapi masih menunjukan ativitas tinggi dengan status waspada bertahan sejak disematkan pada Mei 2018.

“Ya nanti kita lihat itu di mana. Karena jalur evakuasi itu kalo kondisi waspada itu tidak boleh ada yang rusak,” tegasnya di Gedhong Pracimosono Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (9/7).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mendorong agar Pemerintah Desa setempat maupun instansi penanggung jawab jalan dan pembangunan aktif mengawasi. Dia berharap kondisi jalan aspal tetap prima dalam situasi apapun.

“Jalan harus sudah bagus, harus (bisa dilalui) dengan kecepatan minimal 80 kilometer per jam. Sehingga kondisi seperti itu, SOP (standar operasional prosedur) mestinya (Pemerintah) Kabupaten Sleman tahu,” katanya.

Beberapa warga lereng Merapi memang mengeluhkan kondisi jalur evakuasi. Kondisi terparah berada di lingkar desa Glagaharjo, Kepuharjo dan Wukirsari. Sebagian jalur evakuasi telah rusak. Baik itu jalan aspal yang telah atau belum belum diperbaiki.

Salah seorang tokoh masyarakat di Desa Kepuharjo Cangkringan Heri Suprapto mengakui adanya kerusakan jalur evakuasi. Walau di satu sisi warga kawasan lereng Merapi tetap siap mengungsi sewaktu-waktu. Terlebih jika terjadi erupsi Gunung Merapi.

“Kalau masyarakat di Desa Kepuharjo ini semuanya sudah siap. Jalur evakuasi di desa kami cukup baik tapi itu ada jalur yang menuju barak pengungsian di Desa Wukirsari yang rusak parah. Karena banyak truk pengangkut pasir yang melintas,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh warga Glagaharjo Rambat Wahyudi. Pria yang tergabung dalam Komunitas Siaga Merapi (KSM) Glagaharjo mengeluhkan rusaknya akses jalur evakuasi di Kalitengah, Srunen dan Singlar. 

“Sekarang cuma ada satu yaitu di Jalan Kikis perbatasan dengan Klaten. Padahal ada satu jalur lagi yang bisa digunakan tapi kondisinya sudah tidak bisa dilalui,” katanya. (dwi/tif)