RADAR JOGJA – Izin penetapan lokasi (IPL) tol Jogja-Solo telah ditandatangani Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Proses pembebasan lahan pun akan segera dilakukan. Prosesnya paling lama memakan waktu maksimal dua tahun.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, awal Agustus mendatang akan dilakukan pemasangan patok di lahan terdampak proyek tol. Pemasangan patok menyusuri dari wilayah timur, tepatnya dari Desa Tamanmartani, Kalasan, Sleman yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.

“Pematokan berjenjang menuju wilayah tengah ke Kecamatan Depok. Wilayah Depok dan Mlati kami selesaikan,” tuturnya di Kompleks Kepatihan, Jogja, kemarin (8/7). Pematokan akan berakhir di Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman.
Kawasan itu dianggap penting karena nantinya trase tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen melintasi kawasan tersebut. “Di situ (Tirtoadi) ada jembatan junction. Di situ bakal kelewatan tol Jogja-Solo dan Bawen. Itu membuat luas bidang yang banyak, sekitar 100 hektare,” katanya.

Adapun terkait tol Jogja-Bawen tahap pra sosialisasi telah dilaksanakan di Pemkab Sleman. Dia memaparkan sejumlah kecamatan yang akan terdampak pembangunan. Yakni Kecamatan Seyegan meliputi Desa Margokaton 190 bidang tanah, Margodadi 76 bidang tanah dan Margomulyo 106 bidang tanah. Sementara Kecamatan Mlati hanya melewati Desa Tirtoadi sebanyak 277 bidang tanah.

Panjang trase tol Jogja-Bawen 7,6 km. Sebagian besar dibangun secara elevated atau melayang menyusuri Selokan Mataram hingga 6 km. Trase ini berdampak pada sawah seluas 31,19 hektare di luar Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). “Sawah di luar LP2B ya. Jadi tidak berpengaruh, tapi existing saja,” jelasnya.

Sebagian tol akan dibangun secara at grade atau landai. Tujuannya untuk menjaga situs sumber mata air. “Pertimbangan teknis saja. Tol harus memperhatikan ekologi lingkungan. Itu harus betul betul jadi pertimbangan,” tambahnya.

Adapun target penerbitan IPL tol Jogja-Bawen pada Desember mendatang. Ini sejalan dengan masa kerja tim persiapan pembebasan lahan yakni maksimal selama 130 hari. “Di mana kita kan memang menghitung hari kerja tentatif sesuai aturan yang ada,” tuturnya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, IPL telah ditandatangani gubernur DIJ beberapa waktu. “Sudah ditandatangani seminggu yang lalu. Sekarang sudah dilaksanakan sosialisasi Jogja-Bawen. Mudah-mudahan sudah tidak ada masalah. Setelah sosialisasi, IPL ada, lalu masang patok dan seterusnya,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Sleman Sri Purnomo berharap dalam sosialisasi pembangunan tol Jogja-Bawen masyarakat bisa memahami dan diberikan pemahaman secara komprehensif. Proyek tol ini merupakan program pembangunan nasional untuk kepentingan umum.

“Saya berharap masyarakat bisa menerima dan mendapatkan kemanfaatan yang lebih baik. Juga ketika tanah mereka kena pembangunan tol ini, akan mendapatkan ganti untung,” ujar SP. (tor/inu/laz)