RADAR JOGJA – Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Lilik Kurniawan meminta warga maupun penambang kawasan Lereng Merapi menghentikan aktivitasnya sementara waktu karena peningkatan aktivitas gunung. Lilik memberikan wejangan saat meninjau pos Kelompok Siaga Merapi (KSM) di Dusun Kalitengah Lor Desa Glagaharjo Cangkringan. Jalur penambangan, lanjutnya, tepat berada di perlintasan material erupsi. Termasuk perlintasan saat terjadi awan panas dari puncak Gunung Merapi.

“Kami imbau berhenti dulu kalau ada aktivitas. Kami tidak ingin ada korban. Erupsi Merapi ini tak bisa diprediksi, bisa sewaktu-waktu terjadi,” jelasnya ditemui di Pos KSM Kalitengah Lor Glagaharjo Cangkringan, Kamis (9/7).

Di satu sisi Lilik mengapresi kesiapan warga Kepuharjo dan Glagaharjo menghadapi erupsi Merapi sebagai wujud kearifan lokal. Terbukti dari adanya jalur evakuasi, barak pengungsian hingga manajemen resiko saat terjadi erupsi.

Dia menilai berdirinya pos KSM atas inisatif warga juga menjadi bukti kesadaran atas potensi bahaya Merapi tinggi.  Pos ini dapat menginfokan kondisi terkini kepada masyarakat sekitar. Walau begitu tetap berkoordinasi dengan BPPTKG Jogjakarta dan BPBD Sleman.

“Kami melihat ada satu pos pemantauan dikelola masyarakat. Masyarakat sini sudah ada pengalaman tentang Merapi terkait 2006 dan 2010. Ini wujud preventif yang sangat bagus,” katanya.

Beberapa catatan turut mengiringi tinjauan lapangan. Paling utama adalah kerusakan jalur evakuasi. Tak hanya di Sleman, Kabupaten lain juga mengalami kerusakan yang sama. Dominasi kerusakan berada di kawasan rawan bencana (KRB) III.

Beberapa jalur evakuasi, lanjutnya, telah mengalami perubahan fungsi. Saat tak terjadi erupsi, jalur evakuasi menjadi akses sehari-hari masyarakat. Mulai dari pergi bertani, bekerja hingga aktivitas wisata. 

“Jalur evakuasi rusak karena dipakai rutin juga. Tapi kalau situasi darurat harus klir. Bebas dari hiruk pikuk warga termasuk penambangan. Kalaupun Merapi tidak meletus tapi kesadaran kesiapsiagaan harus dilakukan, kalau suatu saat terjadi,” ujarnya.

Tak hanya siap dari sisi kebencanaan tapi juga sosial ekonomi dengan konsep ketangguhan bencana dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ini selaras dengan warga yang berdomisili di sekitar lereng Gunung Merapi.

Menurut Lilik ketahanan pangan di kawasan Cangkringan sudah ideal. Aktivitas perekonomian tetap jalan dengan pertimbangan matang. Terutama untuk tetap waspada adanya peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

Kontinjensi mitigasi Merapi juga telah disusun oleh pemerintah desa dan warga setempat. Salah satunya pemanfaatan truk sebagai dukungan evakuasi. 

“Masyarakat sudah menyiapkan kualitas hidup. Ini menjadi ciri desa tangguh bencana. Bagaimana kemandirian masyarakat penting bagi kita. Ditambah lagi adanya pandemi Covid-19,” katanya.

Peninjauan ini berawal dari peningkatan aktivitas di Gunung Merapi. Berupa gempa vulkanik dangkal dalam beberapa hari terakhir. Ada pula erupsi dengan lontaran material dan kolom erupsi. Catatan terakhir adalah erupsi 21 Juni dengan ketinggian kolom erupsi 6.000 meter.

Lilik juga menjabarkan adanya perubahan morfologi Gunung Merapi. Tepatnya saat mengunjungi pos pengamatan Jrakah Boyolali Jawa Tengah. Ada kemungkinan aktivitas di dalam Merapi yang mulai terpantau. 

“Kami tetap dengarkan saran dari BPPTKG. Mereka ada alat canggih dan lima stasiun pengamatan. Sehingga tahu kapan darurat terjadi,” ujarnya. (dwi/tif)