RADAR JOGJA – Usaha kerajinan batik di Lendah Kulonprogo turut terdampak pandemi Covid-19. Dalam kunjungan Komisi B DPRD DIJ, Paguyuban Perajin Batik Lendah Kulon Progo diketahui tidak produksi sejak Marethingga Juni. Mereka hanya berupaya menjual stok produksi sebelum masa pandemi datang.

“Sebelum maret kami produksi besar-besaran untuk persiapan menyambut hari lebaran. Biasanya satu bulan menjelang lebaran permintaan kain batik meningkat tajam. Namun tahun ini terjadi pandemi bersamaan dengan hari lebaran sehingga permintaan kain batik merosot tajam,” ungkap Ketua Paguyuban Perajin Batik Lendah Kulonprogo Umbuh Haryanto dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7).

Hal senada diungkapkan perajin batik anggota paguyuban Agus Fatkhurohman. Sejak Maret penjualan kain batiknya menurun tajam hingga 90 persen.

” Penjualan turun hingga 90 persen lebih. Sehingga terpaksa kami tidak produksi dulu sejak maret lalu dan konsentrasi menjual stok yang sudah ada untuk upaya bertahan di masa pandemi,” ujarnya

Ketua Komisi B DPRD DIJ Danang Wahyu Broto menjelaskn, kunjungan tersebut untuk mengetahui kondisi riil UMKM perajin batik di Lendah akibat pandemi Covid-19 ini. Data kondisi UMKM terdampak Covid-19 akan menjadi dasar untuk mengusulkan upaya pemulihan kepada pemerintah.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIJ Dwi Wahyu Budiantoro menambahkan, persoalan yang harus ditindak lanjuti oleh pemerintah yakni bagaimana persiapan recovery perekonomian khususnya batik. Menurutnya, diperlukan sebuah even yang menunjukkan bahwa batik Lendah Kulonprogo masih ada.

“Oleh karena itu untuk recovery nantinya di APBD harus ada pagu untuk penyelenggaraan sebuah acara yang menarik sebagai salah satu cara untuk memasarkan batik,” ujarnya.

Kabupaten Kulonprogo, lanjut Dwi,  mendapatkan alokasi dana keistimewaan yang cukup besar tahun ini mencapai Rp 112 miliar. Dana keistimewaan ini bisa digunakan untuk upaya menggelar even budaya sebagai upaya memasarkan batik. (sky/tif)