RADAR JOGJA – Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, dosen Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta mengadakan Seminar Online, Sabtu, (6/7). Mengusung tema ‘Mampukah Keluarga Melenting di Tengah Hantaman Pandemi?’, seminar ini dipandu oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Dinda Hilya Ramadani. Diikuti 190 orang yang terdiri dari berbagai kalangan profesi di antaranya dosen, penyuluh dan mahasiswa. 

Materi pertama diberikan oleh Dekan Fakultas Teknik dan dosen di Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga,l Uswatun Hasanah. Dia menjelaskan, kepanikan moral ditandai oleh adanya fenomena pembelian barang secara berlebihan oleh masyarakat (panic buying), kenaikan harga dan kelangkaan barang, penolakan terhadap tenaga medis dan korban COVID-19 serta penyebaran berita secara berlebihan. 

“Kepanikan yang dihadapi keluarga menyebabkan keluarga sulit melenting (resilience) di tengah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Uswatun juga menekankan pentingnya setiap anggota keluarga untuk bertahan dalam kondisi dan situasi pandemi yang tengah terjadi. 

Materi berikutnya disampaikan oleh dosen Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Universitas Negeri Jakarta Mirdat Silitonga. Dia menekankan kepada setiap keluarga untuk dapat melenting (resilience) dalam menghadapi masalah. 

Resiliensi keluarga merupakan kemampuan untuk setiap keluarga bangkit dari kesulitan serta memiliki ide dalam menghadapi pandemi COVID-19. Masalah yang terjadi di tengah keluarga dapat melemahkan fungsi keluarga. 

“Resiliensi yang dimiliki keluarga lebih dari sekadar bertahan dari krisis tetapi juga harus memiliki potensi untuk tetap bertumbuh dari kesulitan yang sedang dialami, terutama pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini,” katanya.

Dalam menghadapi suatu masalah, lanjut dia, keluarga dapat menggunakan strategi coping. Strategi coping merupakan proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak atau gap antara tuntutan yang ada dengan sumber daya yang ada. 

“Keluarga dapat memulai melakukan strategi coping dengan memperhatikan kesehatan anggota keluarga, meluangkan waktu untuk bersantai, menjaga kualitas komunikasi dengan anggota keluarga, menghindari kepanikan, serta memperkuat ibadah,” jelasnya.

Materi terakhir dalam webinar ini disampaikan oleh Dimas Teguh Presetya, tentang pentingnya sikap patuh (compliance behavior) pada orang muda serta upaya memerangi pandemi COVID-19. 

Dimas menilai, adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat aktivitas norma sosial terhambat. Orang muda memiliki kesadaran yang rendah terhadap kesejahteraan komunitasnya, sehingga mereka cenderung bersikap lalai dalam sikap memerangi penyebaran COVID-19. 

“Norma sosial dapat dijadikan sebagai strategi horizontal dalam mencegah penyebaran COVID-19. Hal tersebut dinilai cukup efektif karena mengandalkan faktor kepercayaan. Norma sosial dapat berupa kehadiran nyata orang sekitar maupun kehadiran orang sekitar,” jelasnya.

Dalam penerapannya, lanjut Dimas, norma sosial ditujukan sebagai upaya mengarahkan orang-orang untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh anggota dalam suatu komunitas tertentu. Norma dapat diaktifkan melalui perilaku apa yang menjadi mayoritas (norma deskritif)  dan apa yang seharusnya sebagian besar orang lain lakukan  (norma injungtif). 

“Kehadiran keluarga secara nyata dapat berupa turut mengajarkan praktik praktik baik dalam mematuhi protokol kesehatan, turut mendukung kepatuhan anggota keluarga lain, turut meningkatkan kesadaran anggota lain seperti memakai masker ketika hendak bepergian, menjaga kebesihan, dan lain sebagainya,” tandasnya (*/tif)