RADAR JOGJA – Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Temon akhirnya kembali menggelar kegiatan peribadatan setelah hampir empat bulan tidak bisa beribadat di gereja akibat pandemi Covid-19. Kendati demikian, pengurus gereja menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus korona.

GKJ Temon merupakan gereja induk yang melingkupi tiga gereja pepanthan, yakni Gereja Glagah, Seling dan Kalidengen. Total jumlah jemaatnya mencapai lebih dari 700 orang. Namun sejak adanya pandemi, GKJ Temon berserta gereja pepanthan ditutup untuk seluruh kegiatan peribadatan.

“Berdasarkan hasil rekomendasi Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kapanewon Temon, peribadatan di gereja boleh digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Pendeta GKJ Temon, Kristian Prawoko, Minggu  (5/7).

Dijelaskan, sebelum mengikuti ritus, jemaat diwajibkan memakai masker dan mencuci tangan di westafel yang terpasang di sebelah gerbang masuk GKJ Temon. Setelah itu dilanjutkan pengecekan suhu tubuh menggunakan thermogun.

Data diri seluruh jemaat meliputi nama, alamat dan hasil pengecekan suhu dicatat. Jemaat diperbolehkan masuk ke dalam ruangan gereja bila suhu tubuh di bawah 37,5 deraja. Di atas suhu normal, jemaat tetap diizinkan mengikuti peribadatan, tapi di tempat khusus di luar gedung yang telah disiapkan pengurus.

Tempat duduk jemaat di dalam maupun luar ruangan gereja diatur sedemikian rupa sesuai protokol Covid-19. Pengurus gereja telah menempelkan tanda di mana jemaat boleh duduk dan tidak. Hal ini dilakukan guna menghindari jarak yang terlalu dekat antar sesama jemaat. “Desinfaksi juga dilakukan di setiap sudut gereja termasuk tempat duduk jemaat sekitar satu jam sebelum kegiatan dimulai dan setelah peribadatan selesai,” jelasnya.

Menurutnya, prosesi peribadatan di GKJ Temon berlangsung lancar dan aman, kendati waktunya lebih cepat dibanding sebelum ada pandemi. Sebelumnya prosesi ritus bisa berlangsung hingga satu jam. “Teks ayat Alkitab dikurangi, kalau biasanya dua bacaan, sekarang hanya bacaan injil yang digunakan. Pengumuman warta jemaat juga dipersingkat sehingga durasi peribadatan kurang dari satu jam bisa terlaksana,” ujarnya.

Salah satu jemaat, Sri Isdiyati mengaku senang GKJ Temon dibuka kembali untuk kegiatan peribadatan. Sebelumnya Isdiyati dan jamaat lain melaksanakan peribadatan di rumah masing-masing.  “Selama hampir empat bulan kami melaksanakan kegiatan ibadah di rumah, dan sekarang akhirnya bisa kembali kumpul di gereja,” ungkapnya. (tom/bah)