RADAR JOGJA – Sejak Hari Raya Idul Fitri lalu, harga daging ayam potong belum pernah turun. Bahkan terus merangkak naik hingga harga tertinggi hingga saat ini. Akibatnya pedagang membatasi stok penjualannya.

Sebelumnya, harga daging ayam mulai Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Dan saat ini sudah mencapai harga tertinggi yaitu Rp 42 ribu per kilogram. “Ini rekor paling tinggi kenaikannya selama saya jual daging ayam,” kata Aida salah satu pedagang ayam di Pasar Beringharjo kemarin (3/7). Kenaikan harga ini sudah terjadi selama satu minggu. Dari suplier, meskipun pasokan ada, tetapi barangnya terbatas. Akibat kenaikan hargaini, dia membatasi jumlah pembelian stok. Saat normal, dia biasa membeli pasokan antara 80 kilogram sampai 100 kilogram setiap hari. Namun saat ini hanya separonya saja.”Dari suplier sudah naik. Kami juga ikut naikkan agar tidak rugi,’’ tandasnya.

Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa dengan kenaikan harga ini menyebabkan daya beli konsumen menurun banyak hingga separo dari biasanya. “Sebelum lebaran sepi tidak ada pembeli. Sekarang ramai, tapi pembeli berkurang karena kemahalan,’’ tambahnya.

Toni, salah satu konsumen mengatakan dengan kenaikan harga pokok daging ayam potong ini mengurangi jumlah pembelian 50 persen dari biasanya. Meskipun begitu, kenaikan tersebut tidak menjadikan alasan untuk menaikkan harga kuliner mercon yang dijualnya. “Tetap sama harga makanan saya. Untung lebih sedikit, yang penting barangnya ada,” katanya di sela membeli ayam di Pasar Beringharjo.

Kepala Bidang Bimbingan Usaha Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja Benedict Cahyo Santoso mengatakan, kenaikan harga ini disebabkan karena adanya pandemi Covid-19. Benedict menjelaskan, seiring dengan adanya pandemi Covid-19 ini peternak mulai kesulitan untuk memasarkan hasil ternak ayamnya. Selain itu juga karena tingginya harga pakan.

Sehingga para peternak sempat menjual ternak ayamnya dilepas dengan harga di bawah normal pada saat awal pandemi Covid-19. Kemudian selama pandemi masih berlangsung dan banyaknya keterbatasan kondisi sehingga banyak peternak beralih usaha. Maka produksi ayam semakin berkurang. “Dan akibatnya sekarang ada kenaikan harga karena kurangnya produksi,’’ jelasnya.

Meski demikian, permintaan dari konsumen sudah mulai berangsur normal selama kondisi menuju new normal. Karena sudah banyak warung maupun restoran sudah mulai membuka operasional meski dengan pembatasan. “Semoga produksi kembali seperti biasa lagi. Sehingga harga berangsur normal,’’ harapnya.

Kepala Disperindag Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono mengatakan dengan kenaikan harga ayam potong ini diharapkan bisa lebih sehat dan representatif tetapi tidak membebani masyarakat. “Kasihan kalau pedagang jualnya murah sekali. Sementara kalau sudah di meja makan harganya mahal,’’ jelasnya. (wia/din)