RADAR JOGJA – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan Bupati Sleman Sri Purnomo meresmikan Pasar Gentan di Jalan Kaliurang Km 10 Ngaglik, Kamis (2/7). Pasar Gentan termasuk yang mendapatkan program revitalisasi 5.000 pasar tradisional di Indonesia.

Peresmian ini mendapat perhatian publik. Sayangnya, protokol kesehatan menjadi terbaikan dalam kunjungan pejabat negara ini. Meski mayoritas menggunakan masker, aturan jaga jarak tidak diperhatikan. Kerumunan orang pun sering terjadi dan kurang ada ada upaya tindakan.

Mendag Agus Suparmanto mengatakan, kehadiran pasar tradisional merupakan unsur penting sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Sebab, dengan adanya pasar tradisional para petani menjadi punya wadah untuk memasarkan hasil panennya.

Dikatakan, untuk target revitalisasi 5.000 pasar tradisional di Indonesia saat ini sudah terpenuhi, bahkan telah melebihi target. Dia mengklaim ada 5.200 pasar yang sudah direvitalisasi hingga pertengahan tahun ini.

“Pasar ini merupakan bagian terpenting bagi petani untuk  memasarkannya di masyarakat. Saya lihat dalam pengerjaannya perlu diapresiasi dan perlu dicontoh daerah lain,” ujar Agus.

Terkait operasional pasar selama masa pandemi, Agus menyampaikan, masyarakat harus patuh terhadap protokol kesehatan yakni menjaga jarak dan penggunaan masker. Dengan patuhnya masyarakat terhadap protokol kesehatan, maka ekonomi di setiap pusat perdagangan akan terus bisa berjalan.

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo menyampaikan, sejak tahun 2013 sudah ada 19 pasar di Kabupaten Sleman yang telah direvitalisasi dari total 42 pasar. Khusus di Pasar Gentan sendiri, alokasi dana revitalisasi sebesar Rp 6 miliar.

Ia melanjutkan, seiring dinamika dan perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat, pihaknya juga melakukan inovasi terhadap Pasar Gentan. Yakni melalui pemberlakuan digitalisasi dan online pada transaksinya.

“Masyarakat dapat memesan barang kepada pedagang di Pasar Gentan secara daring, baik melalui Whats App (WA), maupun aplikasi. Untuk pembayarannya juga dapat dilakukan secara  nontunai (e-money),” ujarnya.

BERSAMA HB X: Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat bertemu Gubernur HB X di Kompleks Kepatihan Jogja,  (3/7). ( YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA )

Selain ke Pasar Gentan, Mendag Agus Suparmanto dalam kunjungan ke DIJ kemarin juga bertemu dengan Gubernur Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan. Agus mengatakan, keberadaan pasar memiliki fungsi vital dalam pemenuhan kebutuhan pokok serta menopang perekonomian masyarakat.

Di tengah pandemi, lanjut Agus, fungsi itu terhambat karena pasar merupakan kawasan dengan potensi penularan yang tinggi. Wabah Covid-19 menghentikan sebagian besar aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tahun ini pun diprediksi melambat.

“Sebelumnya diprediksi tumbuh 5,3 persen, tapi realisasinya menurun 2 persen pada kuartal pertama. Disebabkan karena investasi dan ekspor impor terhambat,”  tambahnya.

Langkah penutupan tempat usaha, merumahkan karyawan, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) terpaksa diambil akibat terhentinya operasional. Daya beli masyarakat jadi menurun, berimbas pada peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan.

Jumlah pedagang di Indonesia diperkirakan turun sebanyak 29 persen. Demikian juga dengan omzet rata-rata, menurun hingga 30 persen. Maka Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya untuk mendorong pasar untuk terus beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan.

“Pasar harus terus dibuka, pedagang terus beroperasi, petani terus menyalurkan hasil panenannya ke pasar. Masyarakat membutuhkan kebutuhan pokok,” tandasnya.

Gubernur DIJ HB X mengatakan, ekonomi Jogja harus tumbuh di situasi pandemi. Karena masyarakat akan sangat terbantu dengan dibukanya aktivitas ekonomi. Ia juga telah melakukan komunikasi dengan pimpinan daerah terkait pembukaan aktivitas ekonomi. Namun, harus diimbangi dengan penerapan protap kesehatan yang ketat.

“Biarpun nanti status daruratnya dicabut, belum tentu korona itu sudah hilang. Mungkin sampai tahun depan pun kita masih pakai masker dan jaga jarak juga,” kata gubernur. (inu/tor/laz)