RADAR JOGJA – Masih ingat kasus susur Sungai Sempor yang menewaskan 10 siswa SMPN 1 Turi, Sleman pada 21 Februari lalu? Persidangan kasus ini dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, kemarin (2/7). Dalam sidang ini agendanya adalah pemeriksaan saksi-saksi. Total ada sembilan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU) yang dihadirkan. Turut hadir pula tiga terdakwa yakni, IYA, RY dan DDS.

Dalam persidangan tersebut, salah satu berinisial AAP,14 yang merupakan salah satu siswa SMP N 1 Turi menyatakan bahwa saat kegiatan susur sungai menyebutkan, tiga terdakwa tidak mendampingi para siswa.

AAP mengatakan, pada saat kejadian dia berada di urutan paling belakang dan belum dapat menyelesaikan susur sungai. Sebab saat itu, air tiba-tiba naik dan arus menjadi deras “Saya langsung naik dari sungai dan setelah itu ikut membantu teman-teman yang terluka. Saat susur sungai saya tidak melihat ketiga pembina (IYA, RY dan DDS). Tapi setelah arus naik saya melihat IYA turun ke sungai untuk membantu siswa,” ujarnya.

AAP melanjutkan, dalam kegiatan itu tidak semua siswa dibekali alat penunjang keamanan. Perlengkapan tongkat pun hanya diberikan kepada ketua regu saja. Itupun, ketua regu juga tidak diberi pembekalan terkait dengan penggunaan tongkat.

Selain itu, lsebelum kegiatan susur sungai pembina maupun dewan penggalang juga tidak melakukan pengecekan arus sungai. Padahal tahun sebelumnya juga pernah dilakukan kegiatan yang sama.”Tahun lalu saat finish baru hujan dan juga mendung, tapi air tidak naik,” ujar AAP.

Terdakwa IYA memberikan sanggahan bahwa kegiatan susur sungai merupakan kegiatan rutin. Dia juga mengklaim bahwa dia pernah memberikan pembekalan kepada para siswa terkait dengan penggunaan alat-alat kepramukaan.

IYA juga mengungkapkan, dia juga memberikan pembekalan untuk kegiatan susur sungai seperti mengukur kecepatan air dan dalamnya sungai. Lalu pada kegiatan susur sungai yang menewaskan 10 siswi lalu, dia sudah menginstruksikan agar para siswa berjalan di pinggir sungai dan tidak ke tengah.

Setiap Jumat ada kegiatan berbeda ada tali temali, tongkat, syarat kecakapan umum (SKU). Lalu untuk penjelajahannya susur sungai. “Pada saat itu (sebelum kejadian), saya juga sudah instruksikan siswa untuk berjalan di pinggir namun tidak tahu kalau ada yang ke tengah,” ujar IYA. (inu/din)