RADAR JOGJA – Keberhasilan seorang anak sangat bergantung kepada cara keluarga itu berkomunikasi. Komunikasi antaranggota keluarga menjadi faktor utama penentu keberhasilan keluarga. Dalam perkembangan emosi seorang anak, emosi diwakilkan oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan atau ketidaknyamanan terhadap keadaan atau interaksi yang sedang dialami.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) Dr Puji Lestari SIP MSi dalam webinar ‘Optimalisasi Peran Keluarga dalam Meningkatkan Kualitas Anak pada Masa Pandemi’. Webinar yang digelar via zoom meeting dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVII 29 Juni ini digagas oleh BEM Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) FT UNJ bekerjasama dengan PSW UPNVY.

“Solusi yang bisa diambil oleh para orang tua adalah perencanaan komunikasi keluarga yang dapat dilakukan dengan metode Communication Heart to Heart terhadap anak. Komunikasi model ini mendorong rasa simpati dan empati agar anak dan orangtua selalu berpikir positif dan mampu mengontrol emosi,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi UPNVY ini dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7).

Terlebih di masa pandemi Covid-19 sepert ini, lanjut Puji, keluarga tangguh bencana dipupuk dari komunikasi yang saling mendukung dalam keadaan apapun.

“Melalui komunikasi dari hati ke hati antaranggota keluarga, akan tumbuh keyakinan yang kuat dalam menghadapi wabah ini secara bersama-sama,” ujarnya.

Dalam webinar ini Puji memaparkan ‘Urgensi Komunikasi Keluarga dalam Membangun Perkembangan Emosi Anak di Masa Pandemi’. Menurutnya, anak belajar melalui keteladanan, maka kekerasan fisik dan verbal bisa sangat berdampak negatif pada motivasi dan tumbuh kembang anak.

“Yang memprihatinkan, Kemenpppa merilis data 3.087 kasus kekerasan anak terjadi di era pandemi. Sementara itu, BKKBN menyebutkan 95 persen dari 20 ribu keluarga stress akibat Covid-19,” ujarnya.

Keluarga yang bersatu padu, kata Puji, dan bisa saling menyesuaikan diri dengan keluarga yang lain, sering dikatakan menjadi keluarga yang berhasil. Perencanaan komunikasi keluarga guna membangun komunikasi yang strategis sangat penting untuk memahami tahap perkembangan emosi seorang anak. Yakni saat norma sosial seperti rasa bangga, malu, rasa bersalah, marah, dan sedih, mulai digunakan untuk menilai perilaku.

“Pandemi Covid-19 membuka peluang keluarga saling bercengkerama dan menjalin komunikasi. Namun juga membawa dampak psikologis kepada anak seperti perasaan cemas, takut, khawatir, stres, bosan, dan emosi. Hati hati, jika emosi tidak terkendali, itu bisa memicu konflik komunikasi dan mengganggu perkembangan anak, bahkan menjadikannya anti sosial,” terang Puji.

Komunikasi yang strategis, diyakini Puji, mampu mendorong 8 fungsi keluarga yang terdiri dari fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi bersosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan, bisa berjalan secara optimal.

Webinar ini diikuti 260 guru, mahasiswa, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi. Harapannya bisa meningkatkan pengetahuan dan meyadarkan pentingnya optimalisasi peran keluarga untuk meningkatkan kualitas anak, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini.

Selain Puji, narasumber webinar lain adalah Dekan FT UNJ Dr Uswatun Hasanah MSi, yang menekankan pentingnya meningkatkan kualitas keluarga pada masa pandemi sekarang ini. Kasi Pengembangan Materi Pendidikan Kependudukan Jalur Pendidikan Formal Ditpenduk BKKBN Ade Isyanah SPd MSR memaparkan materi ‘Strategi dan Tantangan Keluarga Menuju Era New Normal’. Selanjutnya narasumber dari Regency Specialist Hospital Malaysia dr Lim Mei Fhuang menjelaskan tentang ‘The Role of Parents in Maintaining Children’s Mental Health During a Pandemic’. (sky/tif)