RADAR JOGJA –  Uji coba pembukaan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) akan dilaksanakan selama perpanjangan masa tanggap darurat. Pertimbangannya karena sektor ini dianggap mampu menopang hampir seluruh kegiatan perekonomian masyarakat. Namun upaya ini masih dilakukan secara bertahap.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bidang Perekonomian Tri Saktiyana menjelaskan, pelaksanaan uji coba dilakukan pada 1 hingga 31 Juli. Upaya ini diharapkan dapat membangkitkan perekonomian dengan menggerakkan kembali wisata termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Destinasi wisata perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat objek wisata dibuka. Uji coba juga dilakukan secara selektif dan bertahap. “Kita harus jaga betul jangan sampai kepercayaan wisatawan itu turun drastis kalau wisata tidak menerapkan protokol kesehatan dan tiba-tiba di objek wisata tertentu muncul masyarakat reaktif apalagi positif Covid -19”, jelasnya.

Menurutnya, sektor wisata mampu menjadi penopang hampir seluruh kegiatan perekonomian. Contohnya UMKM. Dia mencontohkan, multiplier effect pariwisata lebih dari 104 kali. Artinya, setiap ada penambahan satu miliar pada pendapatan pariwisata, maka output  ekonomi DIJ akan bertambah  Rp 104 miliar. Namun, bila terjadi penurunan dengan nilai yang sama, maka output ekonomi juga turun sekitar Rp. 104 miliar.

Adapun dari sisi ketenagakerjaan, apabila pendapatan pariwisata mengalami penurunan sebanyak Rp 1 miliar, akan ada 0,6 persen penganggur baru. Apabila naik Rp 1 miliar, akan ada tambahan tenaga kerja baru sebanyak 0,6  persen. “Itulah kenapa wakil gubernur mempriotitaskan wisata untuk menjadi yang pertama kita ujicobakan dan kita dorong produktivitasnya,” paparnya.

Dia melanjutkan, pariwisata di era new normal akan berbeda. Kulitas pelayanan dan komitmen untuk menerapkan protap kesehatan perlu terus dipertahankan. “Kami berharap jangan terjadi perang harga. Jangan sampai untuk menarik konsumen itu menurunkan harga dengan menurunkan kualitas,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo menyatakan, sudah ada 10 destinasi yang diizinkan untuk beroperasi. Destinasi tersebar di tiga kabupaten yakni Gunungkidul, Sleman, dan Bantul. Di Guningkidul yakni Gunung Api Purba Nglanggeran, Pantai Baron, Kukup, dan Kalisuci. Sedangkan Bantul terdapat Puncak Becici, Pinus Pengger, Seribu Batu, Pinus Sari serta Pantai Parangtritis. Adapun di Kabupaten Sleman ada Tebing Breksi.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, penerapan protokol kesehatan bersifat wajib bagi destinasi wisata yang ingin kembali beroperasi. Bila tidak melaksanakan ketentuan, pengelola diharuskan untuk melengkapi persyaratan terlebih dahulu. ”Jangan terima tamu sampai kesiapan selesai. Ini belum secara penuh dibuka. (Uji coba) juga dilakukan di hotel mall, dan lain-lain,” katanya.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman kembali melakukan simulasi untuk melihat kesiapan penerapan new normal di objek-objek wisata (obwis). Kemarin (30/6), simulasi dilakukan di obwis Tlogo Putri, Kaliurang.

Bupati Sleman Sri Purnom (SP) menjelaskan, kesiapan objek wisata ini sudah terlihat dari pengelola yang mulai menerapkan protokol kesehatan. Terlebih di area penjual makanan yang juga menerapkan jaga jarak.

Hanya saja, segala kebijakan yang ada harus dilakukan secara konsisten. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi klaster baru dari transmisi lokal. “Selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, yang bisa dilakukan adalah patuh terhadap protokol kesehatan,” pesan SP.

Meskipun pertumbuhan Covid-19 di Sleman cenderung lambat, namun semua pihak tidak boleh lengah agar tidak ada gelombang penyebaran yang lebih parah. “Mengingat kesembuhan pasien Covid-19 di Sleman mencapai 82 persen,” tambahnya.

Selama objek wisata dibuka, tambah SP, pihaknya melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan mengirimkan intelejen untuk tetap melakukan pengawasan. Jika ketahuan melanggar protokol kesehatan, seperti pengunjung maupun pengelola tidak menggunakan masker, akan langsung ditegur dan ditindaklanjuti.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Pujiati menuturkan juga tengah mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana wisata di bawah kewenangannya. Salah satu yang akan dibuka pertama kali, adalah Tlogo Muncar yang berada di sekitar kawasan Tlogo Putri.

Hanya saja, pembukaan tempat wisata masih menunggu kebijakan dari pemerintah daerah. Selain itu, pengunjung yang diterima berjumlah 10-20 persen. “Dan nanti pasti akan dilakukan evaluasi setiap minggunya,” jelas Puji.

Puji menambahkan, di pintu masuk sendiri saat ini sudah disediakan tiga tempat cuci tangan. Selain itu, bagi pengunjung maupun pengelola diwajibkan untuk taat protokol Covid-19. Seperti memakai masker, penyediaan pengukur suhu, social distancing, dan ada tanda dilarang berkerumun. “Intinya kalau kami siap, tinggal menunggu arahan pemerintah,” paparnya.(tor/eno/din)