RADAR JOGJA – Aktivitas masyarakat dan instansi-instansi baik swasta dan pemerintah mulai berangsur menggeliat kembali. Ini terlihat di penyedia layanan transportasi umum, seperti stasiun kereta api, terminal bus, bandara,dan sebagainya.

Merespons itu, dikeluarkanlah Surat Edaran (SE) Nomor 9/ 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Yakni, perubahan dari SE Nomor 7/ 2020 yang berisi tentang perubahan kriteria dan persyaratan perjalanan orang dalam masa adaptasi baru menuju masyarakat produktif dan aman Covid-19.

Salah satunya yang menjadi fokus adalah pengguna layanan atau penumpang transportasi harus melakukan rapid dignostic test (RDT) atau polymerase chain reaction (PCR) terlebih dahulu. Kegunaannya mengantasipasi persebaran Covid-19. Dalam SE terbaru itu tertulis masa berlaku hasil uji rapit test diperpanjang sampai 14 hari. Sebelumnya hanya empat hari.

Juru Bicara Pemda DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih mengatakan, RDT digunakan untuk mendeteksi atau untuk screening awal. RDT itu untuk mengecek apakah di dalam tubuh itu ada antibodi atau antigen. “Karena tes cepat, jadi untuk men-screening saja. Nanti hasilnya reaktif atau non reaktif,” katanya Kamis (30/6).

Setelah dites, jika hasilnya reaktif akan dites rapid ulang tujuh sampai 10 hari ke depan. Jika hasilnya reaktif lagi, harus segera melakukan PCR. “Karena kemungkinan di badannya mengandung virus. Jika RDT kedua hasilnya non reaktif tidak perlu PCR,” sambung Berty.

Dalam RDT ini, yang diambil adalah sampel darah. Yakni, darah tepi yang langsung diambil dari jari atau mengambil serum darah yang diambil dari darah vena. “Hasil tes dari darah tepi itu hasilnya akan segera ketahuan. Kalau yang dari darah vena hasilnya hatus menunggu satu sampai dua jam karena darahnya harus diendapkan terlebih dahulu,” jelas dia.

Sedangkan untuk tes PCR digunakan untuk mendiagnosis pasien apakah positif Covid-19 atau tidak. Sampel harus diambil dengan melakukan swab test. Yaitu, mengambil lendir yang ada di tenggorokan atau lendir hidung pasien untuk kemudian di tes laboratorium.

Tes PCR paling cepat hasil akan keluar dua hari setelah lakukan tes. Prosesnya lama karena harus diekstrak berkali-kali untuk benar-benar memastikan hasil. “Selain itu, tidak hanya satu dua spesimen saja yang harus dicek di lab,” paparnya.

Terkait biaya, Berty menyebutkan RDT itu tidak berbayar jika  pasien datang ke puskesmas dan menunjukkan gejala-gejala Covid-19. Tetapi, jika RDT atau PCR itu untuk syarat bepergian, tetap harus membayar. Yaitu, harga sesuai yang dipatok oleh pemberi layanan dan juga paket layanan.  “Setiap RS beda-beda, ada yang hanya paket RDT saja ada juga paket yang langsung dengan rontgen foto toraks dan periksa-periksa yang lain. Jadi lebih mahal,” lanjut dia.

Dikatakan dalam rangka menjamin keamanan masyarakat yang ingin berpergian atau melakukan perjalanan dengan syarat PCR atau RDT itu. Hampir semua RS di DIJ sudah bisa melayani  RDT dan juga PCR. Beberapa RS juga sudah bekerja sama dengan laboratorium-laboratorium swasta untuk PCR dan RDT ini.

Manager Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 6 Jogjakarta Eko Budiyanto menyampaikan, terkait SE tersebut pihaknya sudah menerapkan dan lebih memperketat protokol kesehatan. Di antaranya bagi penumpang KA jarak jauh harus RDT atau PCR terlebih dahulu, membawa surat keterangan bebas gejala, dan sebagainnya. “Kalau tidak membawa syarat itu terpaksa tidak kami izinkan untuk naik kereta,” jelas dia.

Saat ini memang masih belum banyak penumpang untuk KA jarak jauh. Karena salah satu penyebabnya harus menggunakan syarat RDT atau PCR. “Sebenarnya masyarakat sudah banyak yang ingin naik kereta, tetapi karena syarat itu mungkin calon penumpang takut dan mahal juga,” imbuh Eko.

Sementara untuk penumpang KA Prameks tidak menggunakan syarat RDT atau PCR. Cukup menggunakan masker, menggunakan baju lengan panjang atau jaket, wajib mematahui protokol kesehatan saat di area stasiun maupun dalam rangkaian kereta, dan sebagainya. “Kalau ditemui ada penumpang yang ngeyel, seperti tidak mau pakai masker ya terpaksa kami tolak. Lami kembalikan tiketnya,” tegas dia.

Merujuk SE Nomor 9/ 2020 tersebut, PT Angkasa Pura I sebagai operator Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo sedikit memberikan kelonggaran bagi penumpang. Masa kedaluwarsa rapid test yang sebelumnya empat hari kini menjadi 14 hari. “Namun kami tetap meminta syarat rapid tets tersebut. Bagi yang tidak bisa menunjukkan tetap tidak bisa terbang dari YIA,” kata Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager YIA Agus Pandu Purnama.

Menurutnya, protokol kesehatan dan bukti bebas Covid-19 tetap menjadi syarat utama untuk mengakses bandara, minimal yakni rapid test. Untuk pemberlakukan swab hanya untuk rute YIA – Ngurah Rai (Bali). YIA juga tetap menyiapkan rapid test bagi calon penumpang yang belum atau masa berlaku rapid test-nya habis. “Kami siap melayani berapapun, prinsipnya kami ingin melayani calon pengguna jasa agar lebih mudah mengakses bandara,” ucapnya.

Sementara untuk perkembangan penerbangan di YIA, secara berkala terus menunjukkan perkembangan yang baik. Penumpang sudah semakin banyak,  kendati masih didominasi rute Jakarta, Balikpapan dan Makasar. “Semua maskapai membuka rute Jakarta, Balikpapan menjadi rute kedua yang cukup banyak, disusul Makasar. Tiga rute ini yang cukup padat,” ujarnya.(cr1/tom/din)