RADAR JOGJA – Kasus positif Covid-19 di daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) masih fluktuatif saat memasuki akhir masa tanggap darurat periode kedua. Data terbaru menunjukkan ada penambahan tujuh kasus positif Selasa (30/6). Sehingga total kasus positif menjadi 313 kasus.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjabarkan penambahan kasus terbaru. Yakni kasus 309, perempuan 1 tahun warga Bantul; kasus 310, perempuan 39 tahun warga Bantul; kasus 311, laki-laki 44 tahun warga Bantul; kasus 312, laki-laki 5 tahun warga Bantul; kasus 313, perempuan 68 tahun warga Bantul; kasus 314, laki-laki 57 tahun warga Bantul; dan kasus 315, laki-laki 54 tahun warga Gunungkidul.

Pada kasus 309 hingga 313, kelima pasien dikatakan pernah berkontak dengan pasien kasus 298 yang melakukan perjalanan dari Surabaya. Adapun kasus 314 sumber penularannya masih dalam tahap penelusuran. Untuk kasus 315 dikatakan juga memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya. “Kasus 309-313 merupakan satu keluarga. Berhubungan dengan kasus 298, domisili saat ini di Bantul,” katanya.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Covid-19 Bantul Sri Wahyu Joko Santoso membenarkan bahwa kasus 309-313 pernah kontak erat dengan kasus 298. Sehingga dapat digolongkan sebagai infeksi lokal. “Kalau di Bantul kasus 298 merupakan kasus ke-70. Yang perjalanan hanya kasus 298,” katanya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, kasus positif di DIJ masih fluktuatif, walaupun beberapa kali sempat mencatatkan zero case. Masyarakat perlu memahami bahwa penularan Covid-19 belum bisa diputus. “Masyarakat harus tetap waspada. Jogja itu belum bebas dan harus waspada kepada penularan Covid-19,” tuturnya.

Terkait maraknya penambahan kasus impor atau penularan dari luar wilayah, Aji mengimbau agar masyarakat mewaspadai lingkungan di mana mereka tinggal. Terutama bila mengetahui ada warga yang pernah melakukan perjalanan dari luar daerah. “Jika ada orang datang lingkungan harus waspada. Pendatang harus henjalani rapid atau swab dan isolasi diri,” katanya.

Perlakuan yang sama juga diterapkan bagi warga Jogja yang pernah melakukan perjalanan ke luar daerah. “Orang yang dari luar kota diperlakukan seperti orang dari luar yang datang ke Jogja,” tutupnya.

JAGA KESEHATAN.Warga melintas di kawasan Lapangan Denggung, Sleman, kemarin (30/6). Foto kiri, baliho imbauan penggunaan masker terpasang di kawasan tersebut. Warga dihimbau untuk tetap waspada dan mengikuti protokol kesehatan. ( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Di Kabupaten Sleman, kasus Covid-19 dinlai melandai. Bahkan, zona merah penularan hilang. Wilayah-wilayah yang sebelumnya ditetapkan sebagai zona merah penularan kini sudah berubah menjadi warna orange.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmaladewi mengatakan, menurunnya status zona merah menjadi orange ini dikarenakan sudah tidak adanya lagi transmisi lokal atau penularan Covid-19 secara lanjutan, atau generasi dua dan ketiga di suatu wilayah. “Zona merah bisa turun menjadi orange jika dari kasus terakhir di generasi pertama tidak menularkan ke generasi berikutnya,” terang Evie, sapaan akrab Shavitri Selasa(30/6).

Sebelumnya, empat kecamatan dan enam desa di Kabupaten Sleman ditetapkan sebagai zona merah karena ada kasus penularan yang cukup masif. Di antaranya Kecamatan Gamping, Mlati, Depok dan Ngemplak. Lalu enam desa yang ditetapkan zona merah yakni Balecatur dan Banyuraden di Gamping, Tlogoadi dan Tirtoadi di Mlati, Caturtunggal di kecamatan Depok dan Wedomartani di Ngemplak.

Kemudian dari pembaruan data zonasi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman tertanggal 28 Juni, keempat kecamatan dan enam desa tersebut sudah menjadi orange. Sehingga saat ini ada tujuh kecamatan yang masih berstatus orange, yakni Sleman, Godean, Depok, Prambanan, Ngaglik, Gamping, dan Mlati.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan, wilayah dapat ditetapkan sebagai zona merah apabila dalam satu bulan terakhir terdapat penularan setempat atau penambahan kasus dari transmisi lokal. Sementara zona orange, adalah wilayah yang sudah tidak terjadi transmisi lokal namun tetap ada kasus positif dan masih aktif. “Baik Wedomartani, Tlogoadi, Balecatur maupun Caturtunggal dan wilayah lainnya sudah lebih dari sebulan tidak ada laporan penularan. Sehingga naik menjadi orange,” terangnya.

Terkait dengan temuan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Sleman, hingga Juni ini dinkes mencatat sudah ada temuan sebanyak 121 kasus. Meski jumlah kasus terbilang cukup tinggi, dia mengklaim tingkat kesembuhan di Bumi Sembada juga relatif besar. Terhitung sampai 80 persen. “Ada 90 orang dari keseluruhan kasus,” ujar Joko. (tor/inu)