RADAR JOGJA – Pedagang di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, berharap dibolehkan berjualan lagi. Mereka ingin berjualan setelah destinasi wisata superprioritas tersebut kembali dibuka untuk umum pada Kamis lalu (25/6).

Candi Borobudur sempat ditutup sekitar tiga bulan saat terjadi pandemi virus korona (Covid-19). Pengunjung pun sudah berdatangan.

Sabil, pedagang, mengaku tidak memiliki pemasukan selama Candi Borobudur ditutup. Dia sudah tidak berjualan sekitar tiga bulan

Menurutnya, sampai kemarin (29/6) pengelola Candi Borobudur belum memberikan penjelasan kapan para pedagang boleh berjualan lagi. Padahal, Candi Borobudur telah dibuka sejak beberapa hari lalu.

“Sebelum ada simulasi, pedagang sudah dikumpulkan. Ini dibuka, baru uji coba. Jadi, yang jualan belum,” jelasnya.

Tercatat ada lebih dari empat ribu pedagang yang berjualan di dalam area taman wisata tersebut. Mereka menggantungkan hidup dari wisatawan.

‚ÄĚSempat ada yang mencoba berjualan, terus tidak boleh. Nanti setelah uji coba dua minggu. Katanya, setelah itu kemungkinan baru boleh berjualan,” tuturnya.

Sebelum terjadi pandemi Covid-19, Sabil mengaku memperoleh pendapatan antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta per bulan. Namun, begitu Candi Borobudur ditutup otomatis dia tak berpenghasilan.

Dia mengaku kesulitan untuk memenuhi kebituhan hidup sehari-hari. “Kalau beras mungkin masih dapat bantuan. Tapi, kan ada kebutuhan lain. Ada angsuran, biaya kuliah anak. Belum kebutuhan rumah tangga,” ucapnya. (asa/amd)