RADAR JOGJA – Sempat dibatasi operasionalnya, kini KA Prambanan Ekspres (Prameks) mulai dioperasikan secara full perjalanan mulai kemarin (29/6). Yakni sebanyak 21 trip dengan rute Kutoarjo, Jogja, Solo. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, baik di area stasiun maupun di dalam rangkaian kereta.

Manager Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 6 Jogjakarta Eko Budiyanto menyampaikan, KA Prameks akan dijalankan seperti semula dan dengan waktu keberangkatan yang sama. “Tetapi okupansi tetap 70 persen,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (29/6).

Eko menyebutkan, saat hari-hari biasa KA Prameks okupasinya bisa mencapai 150 persen. “50 persennya tidak dapat tempat duduk,” ujarnya.

Saat pandemi ini, penumpang dibatasi dan tidak ada yang berdiri. Bahkan Eko menyampikan, terkadang pegawai KAI pun harus beli tiket agar mendapat tempat duduk. “Jadi misal ada pegawai KAI yang tinggal di Solo, tetapi tugasnya di Jogja mau tidak mau beli tiket. Soalnya tidak boleh ada yang berdiri dan tidak telat berangkat kerjanya,” katanya.

Selain itu, penumpang harus menggunakan masker dan tidak lupa pakai baju lengan panjang. “Boleh jaket, boleh kaus panjang, ataupun manset. Itu untuk meminimalisasi penularam. Antisipasi,” tandasnya.

Di hari-hari biasa, penumpang KA Prameks bisa mencapai 8.000 hingga 9.000 penumpang per hari. “Namun saat Covid-19 ini kurang lebih ada 1.700-an penumpang saja per hari. Itu karena faktor pembatasan okupansi dan saat ini mahasiswa kan juga masih belajar di rumah. Sehingga itu yang menjadi faktor,” lanjutnya.

Eko mengimbau para calon penumpang untuk mengoptimalkan pesan tiket secara online  melalui aplikasi KAI Access. Di samping akan lebih aman karena meminimalisasi kontak dengan orang lain, calon penumpang kemungkinan tidak akan kehabisan tiket. “Karena kan bisa dibeli dari jauh-jauh hari, bisa dibeli H-7 keberangkatan. Kalau beli tiga jam sebelum kan bisa saja kehabisan. Okupansinya juga hanya 70 persen,” tegasnya.

Ke depan, KA Prameks ini akan digantikan dengan kereta api listrik (KRL). Eko menyebutkan, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri merencanakan, KRL ini akan dioperasikan secara bertahap untuk relasi Jogja-Klaten pada Oktober dan Jogja-Solo pada akhir tahun ini. “Semoga itu bisa segera selesai dan mudah-mudahan menjadi lebih baik,” tandasnya.

KA Prameks memang sudah sangat tua yakni sudah dioperasikan mulai 20 Mei 1994 silam. Jadi sudah sewajarnya jika KA Prameks akan diganti dengan KRL. Eko melanjutkan, KRL akan memiliki beberapa keuntungan seperti lebih bersih, lebih cepat, ramah lingkungan karena tidak polusi. “Selain itu juga bisa melayani stasiun-stasiun yang selama ini tidak tercover oleh KA Prameks seperti Delanggu, Gawok, dan seterusnya itu,” ungkap Eko. (cr1/laz)