TIDAK bisa disangkal kebenarannya bahwa Kehidupan dunia selalu mengandung realitas yang berlainan. Kapan pun dan di mana pun, sejarah kehidupan manusia tidak terlepas dari kata “dualisme”. Baik-buruk, penguasa-rakyat, besar-kecil, tinggi-pendek, adalah beberapa contoh dari sekian banyak tamsil tentang fakta bahwa sejarah manusia senantiasa diliputi oleh perbedaan-perbedaan yang saling bertentangan.

Ketidaksamaan dalam kehidupan ini akan membawa malapetaka manakala tidak dikelola dengan baik oleh manusia itu sendiri. Tulisan ini akan mengulas contoh terakhir yang saya berikan di atas: Kaya dan miskin.

Dalam kehidupan, kita seringkali menjumpai realitas dualistis akibat ketidakmerataan ekonomi. Di satu sisi, ada orang yang kalau pergi ke mana-mana dengan kendaraan mewah. Di sisi lain, ada orang yang kalau pergi ke tempat tujuan naik dengan sepeda, angkutan umum, atau bahkan berjalan kaki.

Di satu pihak, si A kalau malam tidur di rumah mewah dengan kasur empuknya. Di pihak lain, ada si B yang setiap malam tidurnya di bawah kolong jembatan dengan tikar lusuhnya. Secara singkat dapat kita katakan:  Ada si kaya dan ada si miskin. Inilah kenyataan-kenyataan hidup  akibat ketidakmerataan ekonomi yang kerap kali kita temui.

Pada saat orang-orang di berbagai penjuru dunia bangun setiap pagi untuk menyonsong hari yang baru, masing-masing dari mereka melakukannya dalam kondisi yang sangat berbeda. Sebagian hidup di rumah yang indah dan nyaman dengan sekian kamar berukuran luas, plus anaka perlengkapannya. Mereka memiliki persediaan pangan yang lebih dari cukup, pakaian yang serba bagus, kondisi kesehatan yang prima, dan kondisi keuangan yang serba berkecukupan.

Sebagian lainnya, mereka yang berjumlah lebih dari tiga perempat total penduduk dunia atau sekita 6 miliar jiwa, nasibnya jauh kurang beruntung karena sehari-harinya harus hidup dalam kondisi serba kekurangan. Mereka tidak memiliki rumah sendiri, dan kalaupun punya, ukurannya sangat kecil. Persediaan makanan yang ada juga acapkali tidak memadai. Kondisi kesehatan mereka pada umumnya tidak begitu baik atau bahkan buruk serta sakit-sakitan. Tidak sedikit dari mereka yang buta huruf dan mengganggur. Masa depan mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik biasanya suram, atau sekurang-kurangnya tidak menentu.

Inilah yang terjadi di kawasan-kawasan dunia, dan mungkin pula terjadi di negara kita Indonesia. Raanan Weitz (1986) mengatakan “meskipun seluruh manusia menghuni satu planet yang sama, planet ini sebenarnya terbagi menjadi dua dunia, yakni dunia orang-orang kaya dan dunia orang-orang mskin”.

Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bersama terkait kesenjangan ekonomi tersebut adalah: Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa hanya sedikit orang kaya di dunia ini sedangkan orang miskin begitu melimpah?

Beragam faktor yang menyebabkan perbedaan-perbedaan status ekonomi semacam ini muncul dalam kehidupan kita. Bagi si kaya, memiliki keahlian tertentu, pendidikan yang berkualitas, atau mempunyai relasi yang strategis adalah pintu masuk menuju seseorang mendapat perkerjaan yang pada akhirnya membuatnya berlimpa kekayaan.

Sebaliknya, bagi si miskin, ketiadaan pendidikan berkualitas atau ketidakmampuan membangun relasi yang baik bisa mengantarkannya pada posisi serba kekurangan. Kita juga tidak boleh lupa bahwa penyebab ketidaksamaan pendapatan yang berujung pada kemiskinan ini bisa terjadi karena ketidakmampuan negara dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyaknya. Untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar diperlukan pendidikan yang baik. Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dibutuhkan uang untuk membayar biaya pendidikan.  Pada titik inilah, orang-orang miskin biasanya kesulitan untuk menjadi kaya.

Oleh sebab itu, kesadaran individu memegang peranan yang sangat penting dalam mengurangi kesenjangan ekonomi tersebut. Sesuatu yang mudah untuk diberikan kepada mereka yang kurang beruntung adalah uang. Sebagai bahan reflektif, uang sebenarnya bermuka dua (baca: dualisme). Ia berada dalam “antara”. Ia bisa membuat manusia mulia dan hina sekaligus. Orang yang memilki banyak uang yang kemudian menjadikannya sebagai alat untuk mengangkat kondisi kaum miskin akan mendapatkan kemuliaan. Sebaliknya, orang yang mempunyai banyak uang, tetapi disimpan untuk kepentinganya sendiri, akan mendapatkan kehinaan. Bandingkan misalnya orang yang pelit dangan yang dermawan.

Selain perlunya kesadaran individual, dibutuhkan pula etika. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: etika terpenting apa yang perlu diperhatikan guna menyelesaikan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin tersebut? Menurut hemat saya, etika tersebut adalah the common goods atau kebaikan bersama.

Pengertian ini berasal dari pemikiran filsuf Yunani kuno Aristoteles, yang dikembangkan lebih lanjut pada Abad Pertengahan oleh Thomas Aquinas dan sekarang semakin dikaui aktualitasnya dalam konteks politik-ekonomi. Kebaikan bersama ini merujuk pada apa yang baik untuk seluruh masyarakat, bukan untuk beberapa individu atau kelompok saja.

Dalam paham kebaikan bersama, hak-hak individu tetap diakui, tetapi tidak sebagai instansi terakhir, karena semua hak individual harus digabungkan pada taraf lebih tinggi dalam kebaikan bersama. Kerana itu, intervensi negara tetap diperlukan, juga di bidang ekonomi, tetapi intervensi dan pengaturan itu selalu berpedoman pada kebaikan bersama. Misalnya saja, negara tidak boleh membiarkan pemilik modal besar sewenang-wenang membangun perusahaan yang merugikan masyarakat sekitar dengan merusak lingkungan. Di sinilah tugas negara sangat diperlukan untuk mengendalikan orang-orang kaya yang bernafsu mengeskploitasi masyarakat miskin. (ila)

*Penulis merupakan Dosen Ekonomi Syariah pada Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan (UNISLA).